Selat Hormuz Tak Akan Kembali Seperti Sebelum Perang, Pejabat Iran: Tertutup Bagi AS dan Sekutunya
Selat Hormuz disebutkan tidak akan kembali ke status quo seperti sebelum perang Amerika Serikat atau AS-Israel melawan Iran. Hal itu disampaikan oleh pejabat Iran, ketika negaranya menutup Selat Hormuz sebagai respons atas perang melawan AS dan Israel.
Jalur perairan yang sangat penting bagi logistik dunia ini dilewati 20 perdagangan minyak mentah sebelumnya. Namun kini tertutup akibat pertempuran AS-Israel versus Iran yang sudah berlangsung selama sebulan terakhir. Kebuntuan ini telah menyebabkan tekanan ekonomi bagi banyak negara – termasuk AS, di mana harga bensin melampaui USD4 per galon awal pekan ini.
Pejabat Iran itu mengatakan dalam sebuah wawancara dengan RT bahwa “kondisi di Selat Hormuz tidak akan kembali ke status quo sebelum perang.”
Baca Juga: Terobosan Diplomasi, Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Tanker Minyak Filipina
Saat ini transit melalui jalur air tetap beroperasi, akan tetapi kapal tanker yang melewatinya tergantung pada persetujuan pihak Iran dan memerlukan negara bendera kapal untuk menjalin kontak dengan Teheran. Ditambahkan juga bahwa 'Hingga saat ini, tidak ada kapal yang dimiliki oleh musuh atau mitranya yang diberikan izin untuk lewat,' merujuk pada AS, Israel, dan sekutu mereka.Otoritas Iran telah membentuk “jalur aman” melalui selat tersebut, kata pejabat itu. “Mengingat ketidakamanan yang disebabkan oleh agresi Amerika di berbagai bagian Teluk Persia, koridor ini tetap menjadi satu-satunya jalur yang layak untuk transportasi barang dan produk.”
Dia juga mendesak media internasional “untuk mengabaikan kampanye disinformasi oleh pihak AS-Israel dan (Presiden AS Donald]) Trump secara pribadi.”
“Regulasi dan kontrol Iran atas Selat terus berjalan dan akan bertahan,” katanya.
AS Lepas Tangan Soal Krisis Selat Hormuz
Dalam pidatonya pada hari Kamis kemarin, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyarankan bahwa negara-negara yang bergantung pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz sebaiknya “mengumpulkan sedikit keberanian yang tertunda... dan bertindak sendiri.”Trump meminta negara-negara pengimpor minyak dari kawasan Teluk untuk mengamankan sendiri Selat Hormuz yang saat ini terblokir. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran global dan langsung mendorong kenaikan harga minyak dunia.Baca Juga: Inggris Bentuk Koalisi 35 Negara untuk Buka Selat HormuzTrump menegaskan AS tidak lagi bergantung pada minyak dari Timur Tengah sehingga tidak memiliki kepentingan langsung dalam pengamanan jalur pelayaran tersebut. Ia bahkan menyebut AS hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan membutuhkannya di masa depan.
Dia menambahkan bahwa jalur perairan tersebut bisa “terbuka secara alami” setelah perang berakhir, tanpa memberikan rincian.
Sementara itu pada awal pekan ini, parlemen Iran menyetujui 'rezim baru', menurut ketentuan tersebut Teheran akan memungut pembayaran dari kapal yang melewati selat. Disebutkan Majalah Lloyd’s List sebelumnya bahwa satu kapal telah membayar USD2 juta untuk transit.
Sedangkan Kantor berita Tasnim memperkirakan bahwa Teheran bisa menghasilkan sekitar USD100 miliar per tahun di bawah skema tersebut setelah lalu lintas di Selat Hormuz sepenuhnya pulih.









