IMF Peringatkan Dampak Perang Timur Tengah: Ekonomi Melambat, Inflasi Meroket
Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan perang di Timur Tengah akan memangkas pertumbuhan ekonomi global sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi. Gangguan besar pada pasar energi disebut menjadi pemicu utama tekanan tersebut, dengan dampak paling berat dirasakan negara-negara berpenghasilan rendah.
"Jika tidak ada perang ini, kami akan melihat sedikit peningkatan proyeksi pertumbuhan kami. Sebaliknya, semua jalan kini menuju harga lebih tinggi dan pertumbuhan lebih lambat," ujar Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dikutip dari Reuters, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga:Sinyal Resesi Global Menguat, Lonjakan Harga Minyak Dekati Ambang Batas Krisis
IMF sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,3 pada 2026 dan 3,2 pada 2027. Namun, konflik yang berkepanjangan diperkirakan akan memaksa untuk menurunkan proyeksi tersebut, bahkan jika perang berakhir dalam waktu dekat.
Menurut IMF, konflik tersebut telah memangkas pasokan minyak global sekitar 13 akibat terganggunya jalur distribusi energi, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia. Lembaga itu menyebut situasi ini sebagai salah satu gangguan terburuk dalam sejarah pasar energi global.Dampaknya meluas ke sektor gas alam cair (LNG), termasuk terhentinya produksi di fasilitas utama Qatar akibat serangan drone. Kondisi ini menghilangkan puluhan juta ton kapasitas LNG dari pasar global dan memperketat pasokan energi.
Baca Juga:5 Dampak Ancaman Iran Tutup Selat Bab al-Mandeb, Salah Satunya Skenario Mimpi Buruk Dunia
Selain energi, krisis juga merambat ke sektor pangan melalui gangguan distribusi pupuk. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati jalur laut di kawasan tersebut, sehingga hambatan distribusi menyebabkan lonjakan harga urea hingga sekitar 50 dan amonia sekitar 24.
IMF menilai situasi ini sangat krusial karena bertepatan dengan musim tanam di Belahan Bumi Utara. Gangguan pasokan pupuk berpotensi menurunkan hasil panen dan mendorong kenaikan harga pangan global.
Bagi negara berpenghasilan rendah, dampak ini dinilai jauh lebih berat karena porsi pengeluaran rumah tangga untuk pangan mencapai sekitar 36. IMF memperingatkan bahwa lonjakan harga pangan tidak hanya menjadi persoalan ekonomi, tetapi juga berisiko memicu ketegangan sosial dan politik di berbagai negara.










