Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Salam Silaturahmi ke PWNU DIY

Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Salam Silaturahmi ke PWNU DIY

Nasional | sindonews | Sabtu, 18 April 2026 - 17:20
share

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) menerima kunjungan KH Abdussalam Shohib, cucu pendiri NU KH Bishri Syansuri, Denanyar, Jombang. Kegiatan tersebut berlangsung di aula Gedung PWNU DIY Rabu malam, 15 April 2026.

Tampak para Masyayikh dari PP Al-Falah Ploso dan PP Lirboyo, Kediri Jawa Timur menyertai kedatangan KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam. Kedatangan Gus Salam berserta rombongan disambut langsung Katib PWNU KH Mukhtar Salim bersama jajaran pengurus lainnya.

"Saya datang jelang waktu isya' disambut Kiai Mukhtar, kemudian disusul pengurus yang lain. Alhamdulillah, sebelum acara dimulai Masyayikh Ploso dan Lirboyo, Kediri bisa ngobrol gayeng dengan pengurus," kata Gus Salam, Sabtu (18/4/2026).

Baca juga: Nahdlatul Ulama Bukan Komoditas! Muktamar NU Harus Bersih dari Mainan Aktor PolitikDzurriyah PP Al-Falah Ploso, sekaligus Ketua PCNU Kabupaten Kediri KH M. Makmun Mahfudz mewakili Gus Salam menyampaikan ucapan terima kasih kepada PWNU DIY yang telah menerima dan menyambut kedatangan silaturahmi Gus Salam dan rombongan.

“Saya mengenalkan sosok Gus Salam sebagai cucu pendiri NU Mbah Bishri Syansuri. Gus Salam juga bagian dari keluarga PP. Al-Falah Ploso dan PP. Lirboyo, Kediri. Saya sampaikan niatan silaturahmi Gus Salam, kaitan ikhtiarnya sebagai kandidat Ketua Umum PBNU melalui muktamar yang akan datang,” tambahnya“Gus Salam berikhtiar maju sebagai Ketua Umum PBNU atas permintaan dan perintah dari para guru-kiainya. Karenanya dia mohon doa restu dari pengurus PWNU dan PCNU se-Yogyakarta,” ujarnya.

Lihat video: Prabowo: Saya Lebih Berani di Tengah NU, Setiap Negara dalam Bahaya, NU Menyelamatkan

Sementara itu, Gus Salam menyampaikan perkenalannya melalui gagasan dan pikiran tentang jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Dia menjelaskan tentang kondisi NU saat ini dan proyeksinya kedepan.

“Alhamdulillah, saya berkesempatan menyampaikan pemikiran dan gagasan tentang NU ke depan yang dimulai dari landasan dan pentingnya rekonsiliasi secara menyeluruh,” kata Gus Salam

Rekonsiliasi dijalankan dengan memulihkan hubungan semua unsur di jam’iyyah Nahdlatul Ulama demi menjaga persatuan.

"Persatuan itu bisa dibangun kembali bila semuanya dengan penuh kesadaran bisa mengabaikan ego pribadi dan kelompok serta perbedaan-perbedaan yang membatasi untuk bisa bersatu,” ucapnya.Dilandasi argumentasi teologis, filosofis, dan ragam keteladan, Gus Salam menuturkan dengan kebersamaan, NU bisa merajut kembali usaha-usaha untuk mengembalikan marwah, wibawa dan khidmah perjuangan jam’iyyah di tengah masyarakat berdasar garis perjuangan muassis dan pendahulu NU.

“Saya yakin, dengan meneladani dan menjalankan 5 wasiat Mbah Ali Maksum, Rais Aam PBNU 1981-1984, menantu KH. M. Munawwir Al-Hafid, pendiri PP Al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta, kita bisa mengembalikan marwah, wibawa dan kebesaran NU,” ujar Gus Salam.

Lima wasiat Mbah Ali Maksum sangat mashur di kalangan NU karena mencerminkan dan menggambar ruhul alma’had (jiwa pesantren), ruhul jihad (jiwa berjuang) dan ruhul Khidmah (jiwa mengabdi dan melayani) untuk kemashlahatan umat.

Presentasi perkenalan pemikiran Gus Salam disertai dialog gayeng ala NU dan pesantren. Secara bergiliran mulai dari PWNU dan PCNU se-Yogyakarta diminta memberi tanggapan-pemikiran terkait kondisi NU saat ini dan harapan ke depan di bawah kepemimpin baru PBNU.

Suasana hangat dan akrab terasa sepanjang dialog antara Gus Salam dengan pengurus PWNU-PCNU se-Yogyakarta. Mulai dari isu-isu bersifat dogmatis, ideologis, administratif hingga aksi-aksi nyata penopang kemandirian NU terdiskusikan dengan gayeng. Termasuk isu sensitif mengenai AHWA dan mekanisme pemilihan pimpinan PBNU, juga terlontar dari auidens.

Rais PWNU DIY KH. Mas’ud Masduki menyimpulkan ketegangan di NU segera diakhiri, sebaliknya saling berangkulan untuk kebaikan NU melalui khidmah secara konsisten disertai keikhlasan.

“Kita di NU sudah lama berkonflik, kemudian terjadi ishlah. Kini, saatnya bersalam-salaman,” pungkas Kiai Mas’ud disambut senyum-tawa hadirin karena kata bersalam-salaman, identik dengan nama Gus Salam.

Topik Menarik