Stok BBM Global Menipis, Dunia Sedang Menguras Cadangan Minyaknya
Cadangan minyak dan bahan bakar global terus menyusut sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memicu kekhawatiran serius terhadap ketahanan pasokan energi dunia. Menipisnya stok minyak dunia yang selama ini menjadi penyangga pasar meningkatkan risiko lonjakan harga energi jika gangguan pasokan berlanjut.
"Cepat atau lambat, kita akan kehabisan bantalan peredam guncangan," ujar salah satu pendiri firma riset energi Kayrros sekaligus mantan kepala analis minyak Badan Energi Internasional (IEA), Antoine Halff dikutip dari The New York Times, Senin (15/6/2026).
Baca Juga:Krisis Hormuz Kuras Cadangan Minyak Singapura ke Titik Terendah sejak 13 Tahun
Selama konflik berlangsung, cadangan minyak, bensin, dan berbagai bahan bakar lain yang disimpan pemerintah maupun perusahaan telah membantu menutup kekurangan pasokan energi global. Namun stok yang tersimpan di tangki raksasa dan gua bawah tanah kini mulai menurun di sejumlah wilayah, bahkan cadangan minyak Pemerintah AS diperkirakan akan menyentuh level terendah sejak 1983.
Kekhawatiran tersebut sempat mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington dan Teheran semakin dekat mencapai kesepakatan damai. Pernyataan tersebut mendorong harga minyak dunia turun ke bawah USD90 per barel, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.Meski demikian, pelaku pasar masih mempertanyakan bentuk dan implementasi kesepakatan tersebut. Para analis menilai biaya energi bagi konsumen global berpotensi meningkat tajam apabila pasokan minyak tidak segera pulih, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman energi dari kawasan Teluk Persia.
Para ahli energi sepakat bahwa pasar minyak global akan tetap rapuh selama arus pasokan melalui Selat Hormuz belum kembali normal. Jalur laut sempit di pesisir selatan Iran itu menjadi titik krusial bagi perdagangan minyak dunia.
Dunia saat ini mengonsumsi sekitar 100 juta barel minyak per hari. Cadangan minyak menyusut paling cepat di negara-negara yang sangat bergantung pada impor, seperti Jepang dan Korea Selatan. AS sebagai produsen minyak terbesar dunia juga terus menguras stoknya karena perusahaan-perusahaan energi meningkatkan ekspor untuk memenuhi kebutuhan pasar global.
Di sisi lain, negara-negara Teluk Persia justru mengalami penumpukan persediaan minyak akibat terbatasnya ekspor selama gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Beberapa negara mulai memperoleh sedikit kelonggaran setelah lebih banyak kapal berhasil melintasi jalur tersebut dalam beberapa pekan terakhir.China menjadi faktor yang paling sulit dipetakan. Negara itu diyakini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai sekitar sepertiga dari total cadangan global yang diketahui. Namun sejauh ini Beijing tampak belum banyak menggunakan stok tersebut, sehingga menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai strategi energi yang sedang dijalankan.
Sementara itu, kondisi cadangan bahan bakar olahan seperti bensin dan minyak pemanas dinilai lebih mengkhawatirkan. Persediaan kedua jenis bahan bakar tersebut berada pada level yang relatif rendah dibandingkan pola musiman normal, meskipun belum memicu kelangkaan luas di berbagai negara.
Baca Juga:AS dan Iran Capai Kesepakatan, Perang Berakhir
Analis minyak S&P Global Energy Rick Joswick mengatakan dampak penyusutan cadangan mulai terlihat di pasar konsumen, tetapi belum menimbulkan gangguan besar terhadap distribusi energi. Menurutnya, belum ada bukti bahwa bandara kehabisan bahan bakar jet atau masyarakat kesulitan memperoleh bensin.
Di Amerika Serikat, para analis memperkirakan harga bahan bakar akan naik jauh sebelum stok benar-benar habis. Wilayah pesisir seperti Pantai Timur Laut dan California yang sangat bergantung pada impor minyak dan bensin dinilai paling rentan terhadap kenaikan harga.
Kondisi tersebut diperparah oleh terus berkurangnya Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) AS, yang saat ini sedang mengalami penarikan sekitar 172 juta barel dan diperkirakan akan berada pada level terendah dalam hampir setengah abad.
Situasi ini berpotensi mengurangi fleksibilitas Pemerintah AS untuk menstabilkan pasar apabila kesepakatan dengan Iran gagal tercapai atau hambatan pengiriman minyak terus berlanjut.









