Program Ketahanan Pangan, Puluhan Hektare Sawah di Batang Ditanami Padi Hasil Riset

Program Ketahanan Pangan, Puluhan Hektare Sawah di Batang Ditanami Padi Hasil Riset

Nasional | sindonews | Jum'at, 19 Juni 2026 - 20:01
share

Mendukung program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto, ratusan hektare sawah di Batang, Jawa Tengah ditanam bibit padi hasil pengembangan riset. Program bernama Minapadi Salin merupakan pengembangan riset antara PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pemerintah Kabupaten Batang.

Program ini sebelumnya telah diterapkan di wilayah pesisir utara Semarang yaitu Mangunharjo, lalu juga di Kabupaten Jepara berupa Padi Biosalin. Di Batang kali ini merupakan pengembangan dengan pendekatan yang lebih terintegrasi. Sementara di Semarang, dari awal program seluas 20 hektare, saat ini pengembangan lahan sudah mencapai lebih dari 115 hektare.

Baca juga: Pertanian Keluarga Solusi Ketahanan Pangan

Adapun di Jepara, realisasi panennya mencapai 22 hektare dari target 20 hektare dengan capaian ekonomi sekitar Rp1,23 miliar. Jika dikalikan keseluruhan nilai ekonomi yang sudah berjalan pada program Padi Biosalin mencapai Rp7,66 miliar.

Sebagai simbol dimulainya implementasi program, dilakukan pelepasan 10.000 benih ikan nila salin yang dilanjutkan dengan penyerahan dan penanaman benih padi biosalin bersama para petani. Program ini dijalankan di lahan seluas 32,26 hektare yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Barokah Mulyo, Poktan Intani, dan Poktan Dewi Sri VI.Bupati Batang M Faiz Kurniawan mengapresiasi langkah strategis dalam memanfaatkan lahan salin yang selama ini kurang produktif menjadi kawasan pertanian dan perikanan bernilai ekonomi.

“Program ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan lahan salin yang lebih produktif,” ujarnya.

Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN Yopi mengatakan Program Minapadi Salin menunjukkan bahwa hasil riset dapat diimplementasikan secara nyata untuk menjawab tantangan di lapangan, khususnya pada lahan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi. Pendekatan ini tidak hanya memulihkan produktivitas lahan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi kawasan.

“BRIN tidak ingin hasil riset hanya berhenti di laboratorium, tetapi harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi solusi nyata bagi persoalan daerah,” ucapnya.

Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman menyatakan sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN tidak hanya berfokus pada penyediaan energi, tetapi juga berkomitmen menciptakan nilai tambah bagi masyarakat melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan. Dengan budidaya padi biosalin di lahan terdampak salinitas di wilayah pesisir yang dipadukan dengan pemeliharaan ikan nila salin dalam satu hamparan lahan, serta diperkuat dengan budidaya rumput laut diharapkan dapat menjadi komoditas alternatif bernilai ekonomi.

“Program Minapadi Salin merupakan wujud nyata komitmen tersebut dengan mengintegrasikan inovasi pertanian dan perikanan, termasuk pengembangan komoditas rumput laut untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Fajriyah.

Ke depan, program ini juga akan diperkuat dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir sekitar lokasi budidaya sebagai upaya mitigasi abrasi pantai sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Topik Menarik