119 Pekebun Morowali Ikuti Pelatihan Sawit di Palu, Fokus ISPO hingga Pemetaan Kebun

119 Pekebun Morowali Ikuti Pelatihan Sawit di Palu, Fokus ISPO hingga Pemetaan Kebun

Nasional | sindonews | Minggu, 21 Juni 2026 - 10:48
share

Daya Guna Lestari melalui DGL Learning Institute menggelar Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Tahun 2026 di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Program ini menjadi bagian dari kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan DGL Learning Institute untuk meningkatkan kompetensi pekebun kelapa sawit di Indonesia.

Sebanyak 119 peserta dari Kabupaten Morowali mengikuti rangkaian pelatihan yang dirancang untuk memperkuat pengetahuan teknis, keterampilan lapangan, hingga pemahaman tata kelola perkebunan berkelanjutan.

Baca juga: Memerdekakan Petani Sawit

Pelatihan yang digelar di Palu mencakup beberapa materi utama di antaranya Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Angkatan I, Pelatihan Panen dan Pasca-Panen Angkatan I dan II, serta Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit Angkatan I.

Direktur Utama PT Daya Guna Lestari M Gema Aliza Putra mengatakan, program ini bukan sekadar kegiatan formal, melainkan upaya nyata memperkuat kapasitas pekebun di daerah. “Ini bukan hanya kelas pelatihan. Ini adalah amanah untuk hadir langsung di daerah dan memperkuat kompetensi SDM perkebunan Indonesia,” ujar Gema, Minggu (21/6/2026).Menurut dia, keberhasilan sektor perkebunan tidak hanya ditentukan oleh faktor lahan dan teknologi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.

Dalam pelatihan ISPO, peserta dibekali pemahaman terkait standar keberlanjutan, tata kelola kebun, legalitas, hingga aspek lingkungan. ISPO disebut menjadi instrumen penting untuk meningkatkan daya saing perkebunan nasional.

Sementara pada pelatihan panen dan pascapanen, peserta diajarkan teknik pemanenan yang tepat, menjaga kualitas tandan buah segar (TBS), hingga meminimalkan kehilangan hasil. “Panen yang benar akan menentukan kualitas dan pendapatan pekebun,” kata Gema.

Adapun pelatihan pemetaan lokasi perkebunan diarahkan untuk mendorong transformasi pengelolaan kebun berbasis data, termasuk pemetaan batas lahan, kondisi kebun, dan perencanaan produksi.

DGL Learning Institute juga mengembangkan sistem pembelajaran berbasis digital melalui Learning Management System (LMS) untuk memastikan proses pelatihan tidak berhenti setelah kelas selesai.Melalui sistem ini, peserta dapat mengakses materi, mengikuti tindak lanjut pembelajaran, hingga mendapatkan monitoring pascapelatihan.

Selain itu, DGL juga mendorong adanya kajian kebun sebagai evaluasi lanjutan agar materi pelatihan benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan masing-masing peserta.

Program ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan kapasitas pekebun, khususnya di Morowali. Pemerintah dan mitra pelaksana menilai penguatan SDM menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas sekaligus keberlanjutan sektor perkebunan nasional.

Melalui kolaborasi BPDP, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, dan DGL Learning Institute, program ini menjadi bagian dari upaya nasional untuk memperkuat daya saing perkebunan Indonesia di tengah tantangan global.

Topik Menarik