PSEL Bali Dinilai Strategis Kendalikan Sampah dan Emisi
Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) Bali dinilai menjadi langkah strategis untuk mempercepat penanganan persoalan sampah sekaligus memperkuat pengendalian dampak lingkungan di Pulau Dewata.
Ketua Harian Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia atau Indonesian Environmental Scientist Association (IESA) Lina Tri Mugi Astuti mengatakan, PSEL relevan dengan kondisi pengelolaan sampah saat ini, terutama ketika pemilahan dari sumber belum berjalan optimal.
Baca juga: Pembangunan PSEL Mendesak Segera Dituntaskan
Menurut dia, penumpukan sampah secara terbuka atau open dumping berpotensi melepaskan gas metana secara tidak terkendali dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. “Ketika dilakukan open dumping, masalah utamanya berkaitan dengan perubahan iklim. Gas metana terlepas secara tidak terkendali dan berpotensi besar menyumbang gas rumah kaca. Berbeda ketika sampah dikelola,” ujar Lina, Jumat (10/7/2026).
PSEL dapat menggunakan beragam teknologi, mulai dari biogas hingga pirolisis. Namun, melihat karakteristik sampah yang belum sepenuhnya terpilah, teknologi insinerasi dinilai menjadi salah satu pilihan untuk mempercepat pengolahan sampah skala besar.Menurut dia, keberhasilan teknologi tersebut sangat ditentukan oleh sistem pengendalian emisi dan pengawasan lingkungan yang konsisten. “Yang perlu diperhatikan adalah control emission system atau sistem pengendalian emisinya. Insineratornya harus teruji dan emisi yang ditimbulkan dapat dikendalikan,” katanya.
Audit lingkungan, penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), serta pemantauan secara berkala harus dilakukan secara benar dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Lina menegaskan keberadaan PSEL tidak dapat menggantikan upaya pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari sumber. PSEL dan ekonomi sirkular harus berjalan dalam satu sistem pengelolaan sampah yang saling melengkapi.
Dia menuturkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik dan anorganik menjadi salah satu tantangan utama. Selain mengurangi persoalan di tempat pemrosesan akhir, kualitas sampah yang masuk juga dapat memengaruhi kinerja fasilitas pengolahan menjadi energi.
Kadar kelembapan sampah yang tinggi, misalnya, berpotensi memengaruhi proses pengolahan dan kemampuan fasilitas menghasilkan energi sesuai kapasitas yang direncanakan.“Insinerasi memang menjadi teknologi yang paling cepat untuk saat ini, tetapi itu tidak menjamin keberlanjutan apabila tidak didukung perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah,” katanya.
Dalam jangka panjang, Lina menilai PSEL berpotensi memberikan dampak positif bagi lingkungan Bali apabila dibangun dan dioperasikan sesuai standar. Indikator yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah lingkungan yang semakin bersih dan berkurangnya sampah di ruang publik, termasuk kawasan pantai.
“Kalau PSEL sudah ada dan Bali tidak bersih, itu menjadi tanda tanya, terutama jika sampah masih terlihat di pantai. Pemerintah daerah tidak boleh diam. Pengumpulan sampah tetap harus dilakukan secara masif,” ujar Lina.
Selain manfaat lingkungan, pengoperasian PSEL juga berpotensi memberikan efek berganda terhadap perekonomian melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan aktivitas ekonomi sirkular di sektor hulu.
Dia berharap PSEL Bali dapat menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan dengan tata kelola yang transparan, pengawasan lingkungan yang kuat, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.“Praktik pembangunan PSEL yang bersih harus menjadi tolok ukur. Kerja sama antara swasta dan pemerintah harus berjalan dengan baik. Dukungan regulasi dan kebijakan harus kuat,” katanya.
Menurut dia, tata kelola yang baik sejak proses pengadaan, penyusunan amdal, pembangunan, hingga pengoperasian menjadi fondasi agar pengembang dapat bekerja secara profesional dan fokus memenuhi standar lingkungan.
“Kalau prosesnya bersih, developer atau investor tidak akan terganggu dengan hal-hal yang bersifat nonteknis. Mereka bisa bekerja dengan baik. Harapannya, sampah benar-benar dapat menjadi energi dan membantu menambah pasokan listrik,” ujarnya.










