Blunder Senne Lammens dan Pelukan Courtois

Blunder Senne Lammens dan Pelukan Courtois

Olahraga | sindonews | Sabtu, 11 Juli 2026 - 14:04
share

Peluit panjang di Stadion Los Angeles tak hanya menandai kemenangan Spanyol atas Belgia dengan skor 2-1 pada perempat final Piala Dunia 2026, Sabtu (11/7/2026). Di tengah euforia para pemain La Furia Roja, sebuah pemandangan yang jauh lebih menyentuh justru terjadi di kubu Belgia.

Thibaut Courtois berjalan perlahan menghampiri Senne Lammens. Tanpa banyak kata, sang kapten langsung memeluk erat kiper muda yang tak kuasa menyembunyikan kekecewaannya.

Pelukan itu seolah menjadi penegasan bahwa dalam sepak bola, terkadang seorang penjaga gawang lebih membutuhkan dukungan daripada kritik. Lammens memang menjadi sosok yang paling terpukul malam itu.

Baca Juga:5 Fakta Menarik Spanyol Singkirkan Belgia di Piala Dunia 2026

Lammens baru masuk pada menit ke-70 menggantikan Courtois yang mengalami cedera. Kesempatan tampil di panggung terbesar sepak bola dunia justru berubah menjadi mimpi buruk.

Saat pertandingan memasuki fase krusial, tembakan Pau Cubarsí dari luar kotak penalti gagal diamankan dengan sempurna. Bola terlepas dari tangkapannya dan langsung disambar Mikel Merino menjadi gol yang memastikan kemenangan Spanyol sekaligus mengakhiri perjalanan Belgia di Piala Dunia 2026.

Tak butuh waktu lama, media sosial dipenuhi kritik. Banyak yang menilai blunder tersebut menjadi penyebab utama kegagalan Belgia melaju ke semifinal.

Baca Juga:Peluang Cristiano Ronaldo Tampil di Piala Dunia 2030 Masih Terbuka

Bahkan, sebuah catatan statistik kembali mencuat. Lammens disebut sebagai kiper pertama yang masuk sebagai pemain pengganti lalu melakukan kesalahan yang berujung gol di Piala Dunia sejak Dimbi Tubilandu membela DR Kongo saat menghadapi Yugoslavia pada edisi 1974.

Namun, di tengah derasnya kritik, Courtois memilih berdiri di sisi rekan setimnya. "Pertama-tama, saya bersimpati kepada Senne. Menjadi penjaga gawang adalah posisi yang paling tidak mengenal ampun dalam sepak bola. Anda bisa membuat sepuluh keputusan yang benar, tetapi orang-orang hanya akan mengingat satu kesalahan," ujar Courtois.

Kiper senior Belgia itu memahami betul beratnya tekanan yang harus ditanggung seorang penjaga gawang, terlebih di fase gugur Piala Dunia. "Ini adalah babak gugur Piala Dunia. Marginnya sangat kecil dan satu momen bisa menentukan seluruh perjalanan turnamen. Saat Anda mengenakan seragam Belgia di level ini, setiap tindakan memiliki arti yang sangat besar," lanjutnya.

Baca Juga:Profil Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss

Courtois pun menegaskan bahwa satu kesalahan tidak akan menghapus kualitas yang dimiliki Lammens. "Saya tahu kualitas Senne. Kita semua melihat penampilannya sepanjang musim. Karena itu kesalahan ini sangat mengejutkan. Biasanya dia sangat tenang, tegas, dan percaya diri dalam situasi seperti itu."Menurut Courtois, penyebab utama blunder tersebut bukan semata persoalan teknik, melainkan tekanan mental yang luar biasa. "Sepak bola juga merupakan permainan mental. Tekanan di perempat final Piala Dunia berbeda dengan pertandingan lainnya. Ada pemain yang langsung berkembang dalam situasi seperti ini, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi."

"Yang paling mengecewakan bagi saya bukan aspek teknisnya, melainkan keragu-raguannya. Di level tertinggi, keraguan hampir selalu berujung hukuman. Seorang penjaga gawang harus percaya pada instingnya dan berkomitmen penuh terhadap setiap keputusan."

Meski kesalahan itu akan terus dikenang sebagai salah satu momen paling pahit dalam karier Lammens, Courtois percaya masa depan juniornya masih sangat panjang. "Saya yakin Senne akan belajar dari pengalaman ini dan kembali lebih kuat. Dia memiliki bakat yang luar biasa. Namun, ketika Anda memperebutkan trofi terbesar dalam sepak bola, baik bersama Belgia maupun di level klub, inilah momen-momen yang bisa membentuk sekaligus menentukan perjalanan karier seorang pemain."

Topik Menarik