Pemimpin Daerah Awards 2026, Kepala Bakom Komitmen Rangkul Media Konvensional hingga Kreator Konten

Pemimpin Daerah Awards 2026, Kepala Bakom Komitmen Rangkul Media Konvensional hingga Kreator Konten

Nasional | sindonews | Jum'at, 28 Agustus 2026 - 02:11
share

Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) berhasil meraih penghargaan kategori Transformasi Komunikasi Digital dan Kolaborasi Nasional dalam ajang Pemimpin Daerah Awards 2026 yang digelar iNews Media Group di Jakarta Concert Hall, iNews Tower Jakarta, Kamis (27/8/2026) malam. Penghargaan tersebut diterima langsung Kepala Bakom RI Muhammad Qodari.

Qodari mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada iNews Media Group atas penghargaan yang diberikan kepada Bakom RI. "Pertama-tama, kami dari Bakom mengucapkan terima kasih kepada iNews atas apresiasi yang telah diberikan," kata Qodari.

Selain itu, Qodari juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi Bakom RI saat ini yang cukup berbeda dengan beberapa dekade sebelumnya. Menurutnya, ada tiga kategori yang saat ini tengah diidentifikasi oleh Bakom. Pertama, established media seperti media konvensional dan pers. Kedua, media sosial. Ketiga, media hibrida atau media baru yang aktif di media sosial seperti influencer.

Baca Juga: Daftar Penerima Penghargaan Pemimpin Daerah Awards 2026 yang Digelar iNews Media Group

Selain tiga kategori di atas, ia juga menyoroti kategori media deepfake yang berpotensi penyebaran atau timbulnya hoaks. Maka dari itu, media pers serta media baru harus dirangkul agar meminimalkan informasi hoaks tersebut."Nah, yang keempat adalah media deepfake atau hoaks. Kami percaya bahwa musuh kita itu adalah deepfake. Pers teman, media sosial juga sahabat, dan media baru juga harus kita rangkul," kata Qodari.

Qodari menilai bahwa di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat dan konsumsi media yang sudah sangat berbeda, masyarakat tidak bisa hanya terpaku pada satu media. Maka dari itu, berbagai kategori media lain juga harus dirangkul.

"Jadi, terus terang kami di Bakom wacanakan kalau ada yang namanya sertifikasi wartawan, ada pelatihan wartawan, mengapa tidak ada pelatihan dan sertifikasi content creator? Supaya mereka paham batasan-batasan profesional, termasuk juga bisa mengantisipasi berbagai macam potensi negatif," pungkasnya.

Topik Menarik