Buku Gus Muhaimin Dibedah di Ponpes Tambakberas, 3 Kiai Besar Jadi Cermin Kepemimpinan

Buku Gus Muhaimin Dibedah di Ponpes Tambakberas, 3 Kiai Besar Jadi Cermin Kepemimpinan

Nasional | sindonews | Sabtu, 29 Agustus 2026 - 01:35
share

Suluh Nahdliyin menggelar diskusi buku Gus Muhaimin Iskandar, Meneladani Kepemimpinan 3 Kiai: KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri karya Wasid dkk. Diskusi berlangsung di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Maliki 2 Bahrul Ulum (Tambakberas), Jombang, Jumat (28/8/2026).

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas KH Azam Khairuman Najib (Gus Heru), Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng KH Mustain Syafi'i (Kiai Tain), serta pengamat politik Hendri Satrio.

Baca juga: Prabowo: Kalau Bangsa Ini Mau Bangkit dan Aman, Harus Dekat dengan NU-Muhammadiyah

Gus Heru mengatakan, buku tersebut mencoba membaca sosok Gus Muhaimin Iskandar dari berbagai perspektif, terutama dengan melihat keteladanan tiga tokoh besar yang menjadi panutan kepemimpinannya.

“Lewat buku ini, kita mencoba membaca Cak Imin yang orangnya juga santai dari berbagai perspektif, dari berbagai tokoh yang ada di belakangnya yang menjadi panutan beliau,” ujar Gus Heru.

Menurut dia, latar belakang genealogis Gus Muhaimin juga tidak bisa dilepaskan dari jejaring pesantren besar di Jombang, khususnya Tambakberas, Tebuireng, dan Denanyar. Karena itu, Gus Heru menyebutnya dapat dipandang sebagai representasi dari tiga lingkungan pesantren tersebut.

Baca juga: Prabowo Perkenalkan Istilah Jas Hijau di Muktamar NU: Jangan Sekali-kali Melupakan Jasa Ulama

“Cak Imin ini bisa dikatakan perwakilan Tebuireng, bisa dikatakan perwakilan Tambakberas, bisa dikatakan perwakilan dari Denanyar. Jadi wong sakti, kesaktian—terlalu sakti,” ujarnya disambut suasana cair dalam forum.

Gus Heru menilai buku tersebut memiliki pendekatan yang relatif berbeda karena mencoba mengupas ketiga tokoh pendiri NU dari perspektif politik kepemimpinan.“Baru buku ini yang mengupas dari sisi politik para masyayikh, para muassis. Kalau dari sisi pendidikan sudah berkali-kali, banyak sekali,” katanya.Ia menegaskan, buku tersebut tetap terbuka untuk dikritisi karena tidak dimaksudkan sebagai karya yang sempurna. “Jenengan semua boleh setuju dengan buku ini dan boleh juga tidak setuju. Karena buku ini pasti ada kekurangan, belum tentu sempurna, dan tidak akan sempurna,” tuturnya.

Menurut Gus Heru, tantangan utama buku tersebut adalah mencoba membaca kepemimpinan Gus Muhaimin melalui tiga figur yang memiliki jasa besar dan pengaruh luas dalam sejarah NU.

“Tiga tokoh yang sudah jauh jaraknya, yang terlalu besar jasanya, yang terlalu luas digambarkan keilmuannya, tapi dicoba diduplikasi oleh Cak Imin, meskipun setetes dua tetes,” katanya.

Sementara itu, Kiai Tain menyoroti tiga figur yang menjadi fokus buku, yakni KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri. Menurutnya, ketiganya memiliki karakter kepemimpinan yang saling melengkapi. “Tiga figur ini saling melengkapi,” ujar Kiai Tain.

Ia kemudian mengingatkan kembali kapasitas keilmuan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Menurut Kiai Tain, KH Hasyim Asy'ari merupakan seorang hafiz Al-Qur'an dan pernah menempuh pendidikan di Madrasah Al-Shaulatiyah.“Kita ini sungguh punya imam yang hebat, utamanya di Jombang ini. Kita ini tidak pernah ketemu Nabi, tapi kita punya beliau-beliau. Beliau-beliau adalah warasatul anbiya,” katanya.

Di sisi lain, pengamat politik Hendri Satrio melihat penerbitan buku tersebut memiliki momentum yang menarik karena berdekatan dengan Muktamar NU, ketika nama-nama calon sudah mulai muncul.

“Saya waktu terima buku ini belum lama, sekitar beberapa hari yang lalu. Untung terbit pas Muktamar NU, yang calon-calonnya sudah ada semua. Kalau calonnya belum ada dan muktamar masih jauh, bisa jadi Cak Imin dikira mau maju nih,” ujar Hendri.

Menurut Hendri, salah satu kekuatan politik Gus Muhaimin adalah jejaring pertemanannya yang luas lintas kekuatan politik. Bagi Hendri, isi buku tersebut turut menggambarkan bagaimana jejaring dan pengalaman politik Cak Imin terbentuk. “Kalau baca buku ini, Cak Imin ini banyak temannya,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, Hendri juga mengutip salah satu bagian penting dari buku yang menurutnya relevan untuk memahami makna kepemimpinan dalam tradisi NU. “Yang diteruskan pendiri NU bukan kekuasaan, melainkan nilai-nilai yang hidup dalam keteladanan,” sebutnya.

Menurutnya, gagasan tersebut menjadi salah satu pesan penting dari buku yang tidak hanya membicarakan sosok Gus Muhaimin, tetapi juga berusaha menghubungkan kepemimpinan politik dengan warisan nilai para muassis NU.

Topik Menarik