Karakter yang Dibutuhkan Bangsa Indonesia Seperti Apa?

Karakter yang Dibutuhkan Bangsa Indonesia Seperti Apa?

Nasional | sindonews | Sabtu, 26 September 2026 - 17:36
share

HendarmanKetua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor

BANGSA Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Sekolah dan perguruan tinggi terus menghasilkan lulusan dengan berbagai kompetensi. Namun, pertanyaan pentingnya adalah karakter seperti apa yang menyertai kecerdasan tersebut?

Pertanyaan ini relevan ketika kita melihat berbagai fenomena di tengah masyarakat. Masih dijumpai perilaku tidak jujur, intoleransi, perundungan, kekerasan verbal, penyebaran informasi yang tidak benar, rendahnya kepedulian terhadap lingkungan, hingga kecenderungan mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok.

Fenomena tersebut tentu tidak menggambarkan seluruh masyarakat Indonesia. Banyak individu dan kelompok tetap menunjukkan kejujuran, kepedulian, gotong royong, toleransi, dan tanggung jawab. Namun, berbagai gejala negatif itu menunjukkan bahwa kemajuan pendidikan dan teknologi belum otomatis menghasilkan karakter yang kuat.

Pembangunan manusia Indonesia tidak cukup hanya mengejar kecerdasan dan keterampilan. Kita membutuhkan manusia yang mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab sebagai manifestasi karakter yang dimiliki.

Karakter Bukan Sekadar Hafalan Nilai

Thomas Lickona (2013) menjelaskan bahwa karakter tidak cukup dibangun melalui pengetahuan tentang baik dan buruk. Karakter mencakup tiga unsur yang saling berkaitan yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Artinya, seseorang perlu mengetahui nilai yang baik, memiliki kepedulian terhadap kebaikan, dan mampu mewujudkannya dalam tindakan. Kerangka ini juga menempatkan rasa hormat dan tanggung jawab sebagai nilai penting dalam pendidikan karakter.Pandangan tersebut terlihat sederhana tetapi penting. Kita dapat mengajarkan kejujuran kepada anak, tetapi pendidikan belum berhasil apabila kejujuran hanya berhenti sebagai materi pelajaran. Kita dapat berbicara tentang toleransi, tetapi anak perlu mengalami bagaimana menghargai teman yang berbeda.

Kita dapat mengajarkan tanggung jawab, tetapi mereka harus memperoleh kesempatan untuk mempraktikkannya. Dengan kata lain, karakter dibentuk melalui pengetahuan, keteladanan, pembiasaan, dan tindakan nyata.

Dalam menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan tantangan menuju Indonesia 2045, setidaknya ada tiga karakter yang penting diperkuat. Pertama, patriotik. Patriotisme tidak hanya ditunjukkan melalui simbol dan upacara. Patriotisme dapat diwujudkan dengan menjaga kepentingan bangsa, menghargai keberagaman, menaati aturan, menjaga lingkungan, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Kedua, gigih. Bangsa Indonesia membutuhkan manusia yang tidak mudah menyerah. Perubahan teknologi dan dunia kerja menuntut kemampuan belajar, beradaptasi, memperbaiki kesalahan, dan terus berkembang. Gigih berarti memiliki daya juang sekaligus kemampuan mencari solusi secara bertanggung jawab.

Ketiga, empati. Kemajuan tidak berarti banyak jika manusia kehilangan kepedulian. Empati membuat seseorang mampu memahami keadaan orang lain, menghargai perbedaan, membantu mereka yang membutuhkan, dan tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.Ketiganya saling melengkapi. Patriotisme mengarahkan seseorang kepada kepentingan bangsa, kegigihan membangun daya juang, sedangkan empati menjaga agar kemajuan tetap memiliki dimensi kemanusiaan.

Dari Karakter Individual Menuju Karakter Kolektif

Tantangan berikutnya adalah bagaimana karakter individu dapat berkembang menjadi karakter kolektif. Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki banyak orang baik, tetapi bangsa yang memiliki kebiasaan sosial yang baik.

Gotong royong, misalnya, tidak cukup dipahami sebagai kegiatan bersama ketika ada kerja bakti. Ia perlu menjadi budaya untuk menyelesaikan persoalan bersama. Toleransi tidak cukup berupa slogan tentang keberagaman, tetapi diwujudkan dalam kemampuan hidup berdampingan dengan mereka yang berbeda.

Begitu pula dengan integritas. Integritas bukan hanya persoalan tidak melakukan korupsi. Ia dimulai dari kebiasaan kecil: tidak menyontek, tidak memanipulasi informasi, tidak mengambil hak orang lain, berani mengakui kesalahan, dan konsisten antara perkataan dan tindakan.

Di era digital, karakter bahkan menjadi semakin penting. Kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan bersama kemampuan mengendalikan diri.

Literasi digital tanpa etika dapat menghasilkan penyebaran informasi yang merugikan. Kecerdasan tanpa tanggung jawab dapat digunakan untuk kepentingan yang salah. Karena itu, bangsa Indonesia tidak hanya membutuhkan manusia yang digitally literate, tetapi juga digitally responsible.Pada akhirnya, pertanyaan tentang karakter bangsa bukanlah pertanyaan tentang apakah generasi muda sudah baik atau belum. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: lingkungan seperti apa yang sedang kita bangun untuk membentuk karakter mereka?

Jika kita menginginkan generasi yang jujur, lingkungan harus menghargai kejujuran. Jika kita menginginkan generasi yang toleran, lingkungan harus memberikan ruang bagi perbedaan. Jika kita menginginkan generasi yang gigih, kegagalan harus dipandang sebagai bagian dari proses belajar. Jika kita menginginkan generasi yang peduli, masyarakat harus menunjukkan bahwa kepedulian memiliki tempat yang terhormat.

Karakter bangsa pada akhirnya tidak dibentuk oleh satu program, satu mata pelajaran, atau satu lembaga. Ia dibentuk oleh kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, keteladanan yang dilihat setiap hari, serta lingkungan yang secara konsisten memperkuat nilai yang sama.

Pendidikan karakter bukan sekadar membuat anak mengetahui apa yang baik, melainkan membantu mereka mencintai kebaikan dan membiasakan diri melakukannya. Sebab masa depan Indonesia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi ilmu yang dimiliki generasinya, tetapi juga oleh karakter yang mereka bawa ketika menggunakan ilmu tersebut.

Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga patriotik, tidak hanya kompeten, tetapi juga gigih, dan tidak hanya berhasil untuk dirinya sendiri, tetapi juga memiliki empati terhadap sesama.

Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pengetahuan generasinya, tetapi juga oleh karakter yang mereka gunakan ketika pengetahuan itu diterapkan dalam kehidupan.

Topik Menarik