Ini Penyebab Badai Musim Dingin Dahsyat yang Lumpuhkan AS
WASHINGTON, iNews.id - Badai musim dingin dahsyat yang melumpuhkan sebagian wilayah Amerika Serikat, memadamkan listrik lebih dari 1 juta pelanggan dan membatalkan lebih dari 10.000 penerbangan, ternyata dipicu oleh fenomena atmosfer langka di kawasan Arktik.
Para ahli cuaca menyebut penyebab utama badai ini adalah gangguan pusaran kutub (polar vortex) yang meluas jauh ke selatan.
Badan Layanan Cuaca Nasional (NWS) menjelaskan, sistem badai besar ini terjadi ketika pusaran kutub, massa udara dingin bertekanan rendah di wilayah Arktik, tidak lagi terkunci rapat di Kutub Utara. Dalam kondisi normal, pusaran tersebut membentuk sistem melingkar yang relatif stabil.
Namun kali ini, pusaran kutub meregang dan berubah bentuk, sehingga udara dingin ekstrem terdorong ke wilayah luas Amerika Utara.
“Ini adalah badai yang unik karena cakupannya sangat luas,” ujar pakar meteorologi NWS, Allison Santorelli.
Menurut dia, badai ini memengaruhi wilayah dari New Mexico dan Texas di selatan hingga New England di timur laut, dengan jangkauan sekitar 2.000 mil atau lebih dari 3.200 kilometer.
Perpaduan Udara Arktik dan Sistem Lembap
Selain pusaran kutub, badai ini diperparah oleh pertemuan udara Arktik yang sangat dingin dengan sistem udara lembap dari selatan. Kombinasi tersebut memicu hujan salju lebat di Lembah Ohio hingga Timur Laut, serta hujan es yang menciptakan akumulasi es tebal di wilayah Lembah Mississippi Bawah hingga Atlantik Tengah dan Tenggara.
Kondisi ini membuat suhu anjlok drastis di bawah titik beku, membahayakan transportasi dan infrastruktur. Data PowerOutage mencatat, lebih dari 1 juta pelanggan kehilangan listrik, terutama di Tennessee, sementara sejumlah negara bagian lain seperti Mississippi, Texas, Louisiana, Kentucky, Georgia, Virginia, dan Alabama juga terdampak parah.
Dampak Luas akibat Skala Badai
NWS menyebut sekitar 213 juta warga AS berada di bawah peringatan cuaca musim dingin, menjadikan badai ini salah satu yang paling berdampak dalam beberapa tahun terakhir. Skala badai yang luas inilah yang membuat dampaknya terasa serentak di banyak negara bagian, mulai dari pemadaman listrik, gangguan perjalanan, hingga lumpuhnya penerbangan nasional.
Situs pelacakan FlightAware melaporkan lebih dari 10.000 penerbangan dibatalkan dan sekitar 8.000 lainnya mengalami penundaan akibat kondisi cuaca ekstrem.
Ancaman Setelah Badai Berlalu
Bahaya tidak berhenti saat badai mereda. Pihak berwenang memperingatkan bahwa cuaca dingin ekstrem yang mengancam nyawa masih akan berlangsung selama sepekan ke depan, terutama di wilayah Dataran Utara dan Midwest Atas.
Suhu akibat embusan angin bahkan diperkirakan bisa mencapai minus 45 derajat Celsius, kondisi yang dapat menyebabkan radang dingin hanya dalam hitungan menit.
Kaitan dengan Perubahan Iklim
Sejumlah ilmuwan menilai meningkatnya frekuensi gangguan pusaran kutub seperti ini kemungkinan berkaitan dengan perubahan iklim. Pemanasan global di kawasan Arktik diyakini melemahkan kestabilan pusaran kutub, sehingga lebih sering “bocor” dan mengirim udara dingin ekstrem ke wilayah berpenduduk padat seperti Amerika Serikat.
Akibatnya, cuaca musim dingin ekstrem tidak hanya menjadi lebih sering, tetapi juga lebih luas dan lebih merusak, seperti yang kini tengah dialami AS.










