Iran Siap Perang Darat Lawan AS: Kami Akan Sambut Mereka!
TEHERAN, iNews.id - Iran menyiapkan kejutan kepada pasukan Amerika Serikat (AS) jika melakukan serangan darat ke wilayahnya. Pulau Kharg yang menjadi basis produksi dan ekspor minyak Iran diyakini akan direbut oleh AS.
Anggota komite keamanan nasional dan kebijakan luar negeri parlemen Iran, Fida Hossein Maleki mengatakan militernya siap menyambut pasukan di Iran serta invasinya.
Akhir pekan ini, beberapa kapal pendarat Angkatan Laut AS yang membawa unit Marinir dengan total sekitar 5.000-7.000 personel diperkirakan segera tiba di Teluk.
Selain itu, AS juga mengerahkan satu brigade dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke daerah tersebut. Jumlah total pasukan ekspedisi AS bisa mencapai sekitar 10.000-12.000 personel.
"Jika Amerika Serikat ingin mengerahkan pasukan ke Pulau Kharg, kami akan menyambutnya. AS telah kalah dari kami di udara dan laut, dan mereka juga akan kalah di darat, dengan kekalahan telak," kata Maleki, kepada kantor berita Rusia, RIA Novosti, dikutip Sabtu (28/3/2026).
Pulau Kharg merupakan rumah bagi cadangan minyak terbesar Iran. Pulau tersebut merupakan pusat ekspor minyak utama negara itu.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mempertimbangkan akan mengambil alih pasokan minyak Iran seperti dilakukan negaranya terhadap Venezuela. Menurut Trump, mengambil alih pasokan minyak Iran merupakan pilihan.
"Maksud saya, saya tidak akan membicarakannya, tapi itu adalah sebuah pilihan," kata Trump, pada Kamis lalu.
Trump menilai, AS bisa saja memperlakukan hal yang sama terhadap Iran, menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari kekuasaan kemudian bekerja sama dengan presiden yang baru Delcy Rodríguez dalam hal minyak serta isu lainnya.
"Nah, di Venezuela, kita telah bekerja sama dengan sangat baik. Tentu saja kita telah memperoleh miliaran dan miliaran dolar. Dan omong-omong, Venezuela saat ini berkinerja lebih baik daripada yang pernah mereka lakukan dalam sejarah negara mereka. Semacam usaha patungan, tapi AS bisa menghasilkan banyak uang," kata Trump.
Dia melanjutkan AS tidak membutuhkan Selat Hormuz karena pasokan energinya tak harus melalui jalur perairan strategis tersebut. Trump juga berusaha meminimalkan dampak perang terhadap pasokan minyak AS.










