Israel Ingin Kuasai 70 Wilayah Gaza, Jutaan Penduduk Terkurung di Pesisir
TEL AVIV, iNews.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk merebut hingga 70 persen wilayah Jalur Gaza. Kebijakan itu membuat wilayah tempat tinggal warga Palestina semakin menyempit, memaksa jutaan penduduk terkurung di area-area pesisir Gaza yang sudah sangat padat.
Israel saat ini mengendalikan sekitar 64 persen wilayah Gaza, meningkat dari sebelumnya sekitar 50 persen, bahkan setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.
Ekspansi tersebut membuat ruang hidup warga Gaza terus berkurang di tengah kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk.
Netanyahu secara terbuka menyatakan target baru penguasaan wilayah Gaza dalam konferensi di Tepi Barat pada Kamis (28/5/2026). Dia menegaskan Israel akan bergerak secara bertahap untuk memperluas wilayah kontrol militernya.
"Kita berada di angka 50 persen, naik menjadi 60 persen. Arahan saya adalah untuk bergerak ke... mari kita lakukan langkah demi langkah," kata Netanyahu.
"Pertama-tama, 70 persen. Mari kita mulai dengan itu. Kita menekan mereka (Hamas) dari semua sisi. Kita akan menangani sisa-sisanya," ujarnya lagi.
Selama masa gencatan senjata, pasukan Israel seharusnya mundur ke belakang “Garis Kuning”, yakni batas kendali sepihak yang dibuat Israel. Berdasarkan peta militer, garis tersebut membuat Israel menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza, sementara Hamas masih memegang kendali atas wilayah lainnya.
Namun Israel memindahkan patok beton penanda Garis Kuning lebih jauh ke wilayah yang sebelumnya dikuasai Hamas. Langkah itu dinilai sebagai bentuk perluasan kontrol secara bertahap di tengah masa gencatan senjata.
Peta terbaru yang dirilis militer Israel pada Maret lalu menunjukkan area terlarang bagi warga Gaza semakin luas. Para pengamat menilai Israel kini mengendalikan sekitar 64 persen wilayah Gaza.
Netanyahu berulang kali menyebut militer Israel telah menguasai lebih dari 60 persen Gaza.
Sebelumnya Netanyahu berdalih penguasaan wilayah Gaza, Suriah, dan Lebanon diperlukan untuk membentuk zona penyangga guna mencegah potensi serangan terhadap Israel di masa depan.










