Heboh! Tentara Israel Rusak Patung Yesus di Lebanon, Picu Kecaman Global
WASHINGTON, iNews.id - Aksi seorang tentara Israel merusak patung Yesus Kristus menggunakan palu di Lebanon memicu kecaman global, termasuk di Amerika Serikat (AS). Dalam foto yang viral, seorang tentara Zionis memukul tubuh patung di luar ruangan.
Insiden ini menuai kecaman para pejabat dari banyak negara, memaksa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menyampaikan permintaan maaf. Mulanya, tuduhan diarahkan kepada umat Islam Lebanon, namun foto yang beredar di media sosial mengungkap fakta siapa pelaku perusakan tersebut.
Di AS, penodaan terhadap simbol agama Kristen menambah kriti terhadap para pendukung Israel, bahkan dari kalangan sayap kanan.
“Anda tidak akan pernah ytahu dengan mengonsumsi berita dari media korporat Amerika, tapi insiden seperti ini bukan hal yang jarang terjadi,” kata pengamat politik dari sayap kanan, Tucker Carlson, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (21/4/2026).
Pemerintah Israel, lanjut dia, mengizinkan tentaranya berperilaku barbar selama puluhan tahun. Di saat yang sama, militer Israel terus menerima dana besar dari AS.
Kini media sosial telah mengungkap perilaku sebenarnya Israel terhadap dunia.
Mantan anggota Kongres Partai Republik, Marjorie Taylor Greene juga menyoroti, Israel menerima miliaran dolar untuk bantuan militer dari AS setiap tahun.
“Sekutu terbesar kita yang meraup miliaran dolar pajak dan senjata kita setiap tahun,” tulisnya, dalam komentar di media sosial X, menanggapi foto menunjukkan seorang tentara Israel menghancurkan kepala patung Yesus.
Perusakan patung tersebut berlangsung di dekat Kota Debl, Lebanon Selatan.
“Saya mengutuk tindakan tersebut dengan sekeras-kerasnya. Otoritas militer sedang melakukan penyelidikan kriminal atas masalah ini dan akan mengambil tindakan disiplin yang sesuai dan keras terhadap pelaku,” kata Netanyahu.
Israel jarang meminta pertanggungjawaban tentaranya atas pelanggaran, bahkan meskipun terdokumentasikan oleh foto dan video, termasuk kekerasan seksual. Ini terjadi di Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon.
Lebanon merupakan negara dengan populasi pemeluk Kristen terbesar di Timur Tengah. Bahkan Presiden Joseph Aoun seorang Katolik Maronit.










