Henti Jantung Mendadak, Jangan Panik Perhatikan Cara Menanganinya
JAKARTA, iNews.id – Kematian selebgram Lula Lahfah akibat henti jantung menyita perhatian publik sekaligus membuka mata banyak orang soal bahaya kondisi medis yang bisa terjadi kapan saja. Henti jantung mendadak kerap datang tanpa tanda, sehingga pengetahuan pertolongan pertama seperti CPR menjadi faktor penentu hidup dan mati.
Kematian akibat henti jantung mendadak dapat berujung fatal apabila korban terlambat mendapatkan pertolongan. Dalam banyak kasus, korban tiba-tiba tidak sadarkan diri dan kehilangan denyut nadi, sementara waktu emas penyelamatan hanya berkisar beberapa menit.
Dilansir Cleveland Clinic, Sabtu (24/1/2026) langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan masyarakat awam saat menghadapi kondisi henti jantung adalah CPR atau resusitasi jantung paru. Tindakan ini bertujuan menjaga aliran darah ke otak dan organ vital hingga bantuan medis tiba.
Viral Video Bintang Film Dewasa Bonnie Blue Ditangkap usai Ludahi Bendera Merah Putih, Ini Faktanya!
American Heart Association menjelaskan, CPR atau dalam bahasa Indonesia disebut RJP merupakan prosedur darurat yang dilakukan ketika jantung berhenti berdetak. Tindakan ini terbukti mampu meningkatkan peluang bertahan hidup korban henti jantung hingga dua sampai tiga kali lipat.
CPR bekerja dengan cara mempertahankan sirkulasi darah secara manual melalui kompresi dada. Dengan aliran darah yang tetap berjalan, risiko kerusakan otak permanen dapat ditekan selama menunggu penanganan lanjutan dari tenaga medis.
Untuk masyarakat umum, CPR dapat dilakukan tanpa napas buatan. Teknik ini cukup dengan memberikan tekanan kuat dan cepat di bagian tengah dada korban. Meski terlihat sederhana, ada sejumlah hal penting yang wajib diperhatikan agar CPR efektif.
Lima hal utama yang harus diperhatikan saat melakukan CPR antara lain meminimalkan jeda kompresi dada, memberikan tekanan dengan laju dan kedalaman yang tepat, tidak bersandar pada tubuh korban di antara kompresi, memastikan posisi tangan berada di tengah dada, serta menghindari ventilasi atau napas buatan berlebihan.
Apabila CPR telah dilakukan namun korban belum menunjukkan respons, masyarakat disarankan segera menghubungi layanan darurat pemerintah atau pihak yang memiliki fasilitas pertolongan medis. Semakin cepat bantuan profesional datang, semakin besar peluang korban untuk selamat.
Kasus henti jantung mendadak yang menimpa figur publik seperti Lula Lahfah menjadi pengingat penting bahwa edukasi kesehatan darurat bukan hanya tanggung jawab tenaga medis. Pengetahuan dasar CPR di masyarakat dapat menjadi garis pertahanan pertama dalam menyelamatkan nyawa.










