Para Penasihat Trump Menyesal AS Perang Melawan Iran, Terlalu Remehkan Rezim Teheran
Para penasihat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan penyesalan atas keputusan untuk berperang melawan Iran. Penyesalan ini muncul di tengah meningkatkan kekhawatiran bahwa pemerintahan Trump meremehkan ketahanan rezim Teheran.
Penyesalan para penasihat presiden AS itu diungkap Axios dalam laporan yang diterbitkan pada hari Senin.
Baca Juga: Trump Akui Terkejut Ternyata Iran Berani Serang Negara-negara Timur Tengah
Menurut laporan tersebut, beberapa pejabat kunci enggan atau menginginkan lebih banyak waktu sebelum meluncurkan kampanye militer terhadap Iran. Seorang sumber AS mengatakan Trump akhirnya menepis keraguan tersebut, dengan mengatakan, “Saya hanya ingin melakukannya.”
Sumber tersebut menambahkan bahwa Trump telah didorong oleh keberhasilan militer AS baru-baru ini, termasuk serangan musim panas lalu terhadap Iran dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu, dan telah melebih-lebihkan kemampuannya untuk menggulingkan rezim Iran tanpa pasukan darat.“Dia terlalu percaya diri,” kata sumber tersebut kepada Axios.Laporan tersebut mencatat bahwa Trump saat ini telah jatuh ke dalam “perangkap eskalasi” di Selat Hormuz, di mana pihak yang lebih kuat merasa terpaksa untuk terus menyerang guna menunjukkan superioritasnya, meskipun keuntungan semakin berkurang.
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan kepada Axios bahwa campur tangan Iran di Selat Hormuz membuat Trump “semakin teguh” daripada mendorong penilaian ulang.
Dalam jadwal awalnya, pemerintah AS memperkirakan operasi militer akan berlangsung selama empat hingga enam minggu.
Namun, para pejabat di Washington dan ibu kota negara-negara sekutu kini bersiap menghadapi krisis yang lebih panjang, dengan tiga sumber mengatakan kepada media-media Amerika bahwa keterlibatan AS dapat berlanjut hingga September, bahkan jika konflik bergeser ke fase intensitas yang lebih rendah.
Serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Sebanyak 14 anggota militer AS telah tewas sejak awal perang.Sementara itu, Trump mengaku sangat terkejut karena Iran berani menyerang negara-negara Timur Tengah sekutu Washington setelah perang pecah 28 Februari. Teheran menegaskan, militernya bukan bermaksud menyerang negara-negara tetangga, melainkan membalas agresi dengan menargetkan pangkalan militer dan kepentingan Amerika di kawasan tersebut.
Target-target serangan balasan Iran antara lain Pangkalan Udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, Markas Armada Kelima AS di Manama, Bahrain, Pangkalan Udara Al-Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi, dan Pangkalan Al-Harir di Erbil, Irak. Sedangkan target serangan balasan langsung Iran yang terus berlangsung adalah wilayah Israel.
Trump menngatakan sekutu AS di Timur Tengah "sangat hebat". "Mereka ditembak secara tidak perlu. Saya sangat terkejut," katanya, seperti dikutip dari NBC News.
"Itu adalah kejutan terbesar yang saya alami dari keseluruhan hal ini," paparnya.
Di sisi lain, Trump mengeklaim bahwa Iran meminta bernegosiasi untuk gencatan senjata. “Iran ingin membuat kesepakatan, dan saya tidak ingin membuatnya karena persyaratannya belum cukup baik,” kata Trump. Ketika ditanya tentang persyaratan kesepakatan potensial untuk mengakhiri perang, Trump menjawab: “Saya tidak ingin mengatakan itu kepada Anda.” Tetapi dia setuju bahwa komitmen dari Iran untuk sepenuhnya meninggalkan ambisi nuklir apa pun akan menjadi bagian dari kesepakatan tersebut.
Namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah keras klaim Trump. Menurutnya, Iran tidak tertarik untuk berdialog dengan Amerika Serikat.
“Kami stabil dan cukup kuat. Kami hanya membela rakyat kami,” kata Araghchi kepada program “Face The Nation” CBS.
“Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus berbicara dengan Amerika, karena kami berbicara dengan mereka ketika mereka memutuskan untuk menyerang kami," ujarnya.
“Tidak ada pengalaman baik berbicara dengan Amerika," kesal Araghchi. “Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi,” imbuh Araghchi.
Dia menambahkan bahwa Iran hanya siap untuk berbicara dengan negara-negara yang ingin bernegosiasi agar kapal tanker minyak tertentu dapat melewati jalur ekspor Selat Hormuz yang penting. “Saya tidak dapat menyebutkan negara tertentu, tetapi kami telah didekati oleh sejumlah negara yang ingin memiliki jalur aman untuk kapal mereka,” katanya.










