Iran Bertekad Jadi 'Vietnam Kedua' yang Bikin AS Kalah Perang Secara Memalukan

Iran Bertekad Jadi 'Vietnam Kedua' yang Bikin AS Kalah Perang Secara Memalukan

Global | sindonews | Selasa, 17 Maret 2026 - 08:21
share

Iran telah bertekad menjadi "Vietnam Kedua" yang akan membuat Amerika Serikat (AS) kalah perang secara memalukan seperti yang terjadi pada Perang Vietnam. Itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh ketika memperingatkan bahaya bagi Washington jika mengerahkan pasukan darat dalam perang sekarang ini.

Berbicara dari kantornya di Teheran, Khatibzadeh mengatakan Iran bersedia berperang selama diperlukan dan negaranya saat ini tidak fokus pada solusi diplomatik.

Baca Juga: Para Penasihat Trump Menyesal AS Perang Melawan Iran, Terlalu Remehkan Rezim Teheran

Diplomat Iran itu tidak mengesampingkan negosiasi, tetapi menjelaskan bahwa Amerika dan sekutunya harus mengajukan proposal yang mengakhiri konflik untuk selamanya.

Ketika ditanya tentang kemungkinan kehadiran pasukan darat AS di tanah Iran, pesan Khatibzadeh untuk Presiden AS Donald Trump jelas: "Bacalah apa yang terjadi di Vietnam."

Tentara Amerika, katanya, dapat menghadapi nasib serupa di Iran. "Mereka memahami bahwa mereka yang menyeret mereka ke dalam perang ini juga dapat menyeret mereka ke dalam rawa," ujarnya, seperti dikutip dari Sky News, Selasa (17/3/2026).Sekadar diketahui, AS secara luas dianggap kalah dalam Perang Vietnam dengan penarikan pasukannya pada 1973. Dalam perang tersebut, lebih dari 58.000 prajurit AS tewas, menjadikannya salah satu kekalahan terburuk dalam sejarah militer Amerika

Sikap menantang diplomat Iran tersebut muncul setelah dua minggu konflik dahsyat yang telah menewaskan hampir 1.500 warga Iran dalam perang melawan AS dan Israel. Perang ini juga menyebabkan jutaan warga Iran mengungsi.

Perang ini juga telah merenggut hampir 1.000 nyawa warga non-Iran. Ini termasuk setidaknya 886 orang tewas di Lebanon, 30 di Irak, tujuh di Uni Emirat Arab, enam di Kuwait, belasan orang di Israel, empat di Suriah, dua di Oman, dua di Arab Saudi, dan dua di Bahrain.

Sebanyak 13 anggota militer AS juga tewas. Sedangkan Prancis kehilangan satu tentaranya akibat serangan pesawat nirawak di pangkalan militernya di Irak.

Khatibzadeh menyalahkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena menyeret AS ke dalam perang."Mereka harus berpikir dua kali ketika berurusan dengan Iran dan tidak menerima nasihat dari mereka yang tidak mengenal Iran, yang selama beberapa dekade ingin memenangkan perang melawan Iran dengan uang pajak dan darah tentara Amerika," katanya.

"Netanyahu dan rezim Israel memiliki agenda sendiri untuk menjadikan perang ini kemenangan bagi mereka dengan mengorbankan semua orang," paparnya.

Mengenai kesehatan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, wakil menteri luar negeri itu menegaskan bahwa dia "sehat dan memegang kendali" meskipun belum tampil di depan publik.

Topik Menarik