Purbaya Sebut Moody's Offside Nilai Prospek Ekonomi RI, Begini Penjelasannya
IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai ada yang tidak sepenuhnya benar dari penurunan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif oleh Moody's Ratings.
Sebab, lembaga pemeringkat kredit internasional itu menggunakan acuan melambatnya pertumbuhan ekonomi sebagai salah satu parameter. Di lain sisi, rilis BPS soal pertumbuhan ekonomi RI sepanjang 2025 di angka 5,11 persen.
Sehingga, koreksi negatif dari Moody's tak sejalan dengan kondisi perekonomian.
"Moody's mengeluarkan outlook Indonesia negatif karena ada prospek pertumbuhan yang lebih lambat katanya. Taunya, keluarnya lebih tinggi. Habis itu langsung IMF menaikkan prediksi kita dari 4,9 ke 5,2 untuk tahun ini. JP Morgan juga sama dari 4,9 ke 5,2. Jadi ada yang offside kelihatannya," ujar Purbaya dalam acara diskusi di Grand CIMB Niaga, Kamis (12/2/2026).
Purbaya mengatakan mesin pendongkrak pertumbuhan ekonomi bakal terus digerakkan untuk menjaga momentum. Hal tersebut juga telah dilakukan sebelumnya dan tercermin dari indeks kepercayaan konsumen dan kurva konsumsi BBM yang berada dalam tren positif, kenaikan penjualan listrik untuk industri naik hingga PMI Manufaktur yang tercatat ekspansif.
Ke depan, kata Purbaya, pemerintah terus membuat kebijakan fiskal yang tepat sasaran dan bernilai tambah demi menjaga sentimen pasar tetap positif dan mendorong perekonomian nasional.
"Kami akan buat dia (Moody's) offside betulan. Triwulan pertama ini kami akan inject semua stimulus yang ada di pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun yang lain-lain untuk belanja habis-habisan dan memperbaiki iklim investasi supaya dunia usaha juga bisa ekspansi," ujar Purbaya.
Kepada dunia industri dan investor, Purbaya juga menjanjikan kebijakan pemerintah diarakan untuk menjaga iklim bisnis dan investasi.
"Jadi Indonesia bergerak ke arah perbaikan yang clear karena fondasinya kami address dengan baik. Dengan modal ini harusnya Anda enggak usah takut tentang prospek ekonomi Indonesia. Kami menjalankan kebijakan yang pas," kata dia.
(NIA DEVIYANA)









