Progres Kesepakatan Damai AS-Iran Jadi Sentimen Tertekannya Harga Karet dan CPO
IDXChannel — Perkembangan positif menuju perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran selama Juni 2026 menjadi salah satu sentimen yang menekan harga sejumlah komoditas global, termasuk karet dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Selain karet dan CPO, pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah dunia yang saat ini bergerak di kisaran USD75 hingga USD78 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh level USD100 per barel.
Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin menyebut progres perundingan yang berlangsung konstruktif antara AS dan Iran telah memengaruhi sentimen pasar komoditas secara keseluruhan. Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu realisasi konkret dari kesepakatan tersebut.
"Apalagi hubungan kedua negara masih diwarnai dinamika geopolitik dan ketegangan yang sewaktu-waktu dapat berubah," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (17/6/2026).
Pada awal Juni 2026, harga CPO dunia tercatat sempat menyentuh USD1.127 per ton. Namun, pada 11 Juni 2026, harga komoditas tersebut turun ke kisaran USD1.080 per ton, sebelum kembali menguat ke level sekitar USD1.100 per ton.
Kondisi serupa terjadi pada komoditas karet. Harga karet yang berada di kisaran USD2,35 per kilogram pada awal Juni turun menjadi sekitar USD2,23 per kilogram pada 11 Juni 2026. Meski demikian, harga karet saat ini mulai menunjukkan pemulihan dan bergerak di kisaran USD2,28 per kilogram.
"Di tengah tekanan harga komoditas, kinerja industri hilir sawit justru menunjukkan tren positif. Produksi refined, bleached and deodorized palm oil (RBDPO) pada Juni diperkirakan meningkat. Sejumlah perusahaan mencatat kenaikan produksi mulai dari 8 persen hingga 44 persen secara bulanan," kata dia.
Sementara itu, ekspor produk turunan minyak kelapa sawit juga mengalami peningkatan signifikan. Ekspor olein dan stearin tercatat tumbuh antara 34 persen hingga 61 persen.
Ekspor Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) menunjukkan kinerja beragam, dengan kenaikan mulai dari 4 persen hingga mencapai 85 persen pada beberapa perusahaan.
"Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekspor produk turunan sawit masih mampu tumbuh dan belum sepenuhnya terdampak oleh kehadiran PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI)," ujarnya.
Kinerja ekspor karet juga diproyeksikan tetap positif pada Juni 2026. Meskipun terdapat variasi capaian antarperusahaan, mayoritas pelaku industri diperkirakan menikmati peningkatan ekspor yang cukup signifikan.
Bahkan, dalam skenario paling optimistis, terdapat perusahaan yang berpotensi mencatat lonjakan ekspor hingga sembilan kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.
"Meski demikian, sebagian perusahaan masih menghadapi penurunan kinerja ekspor. Namun, penurunan tersebut diperkirakan masih dapat ditutupi oleh pertumbuhan ekspor rata-rata perusahaan karet lainnya," kata dia.
(Dhera Arizona)










