Wamen ESDM: Harga Listrik Pakai EBT Lebih Murah Ketimbang Gunakan Energi Fosil
IDXChannel - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengungkapkan harga energi di sejumlah negara yang memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) dalam kapasitas besar justru relatif lebih murah dibandingkan negara yang masih dominan menggunakan energi fosil.
Yuliot mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pemanfaatan EBT tidak hanya berkaitan dengan transisi energi, tetapi juga dapat berdampak terhadap harga listrik dan daya saing industri. Sebab, industri bakal cepat bertumbuh ketika harga energi di suatu negara bisa ditekan lebih murah.
"Negara-negara yang memanfaatkan energi baru terbarukan dengan kapasitas yang cukup besar harga energinya itu justru sangat rendah. Sementara negara-negara yang lebih dominan menggunakan bahan bakar yang tidak terbarukan, itu justru harga energinya relatif lebih besar," ujar Yuliot dalam paparannya pada Indo EBTKE ConEx and Exhibition ke-12 di JIExpo Kemayoran, Rabu (2/9/2026).
Yuliot kemudian memberikan contoh Pakistan. Berdasarkan paparan yang disampaikannya, kapasitas terpasang listrik Pakistan sekitar 50 GW. Dari kapasitas tersebut, sekitar 17 GW berasal dari PLTN dan lebih dari 17 GW berasal dari PLTA.
Dengan komposisi tersebut, Yuliot menyebut harga listrik yang dijual kepada masyarakat Pakistan relatif rendah, yakni sekitar USD0,06 per kWh.
"Dengan murahnya harga listrik di Pakistan, industri-industri manufaktur di Pakistan itu justru dikerjakan oleh masyarakat, skalanya adalah usaha mikro kecil," katanya.
Menurut Yuliot, kondisi tersebut menunjukkan keterkaitan antara ketersediaan energi dengan aktivitas ekonomi dan industri. Harga energi yang lebih murah dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan manufaktur, termasuk usaha berskala kecil.
Yuliot juga menyoroti China dalam kaitannya dengan harga listrik dan daya saing industri. Industri high-tech di China memperoleh harga listrik khusus yang berada di sekitar USD0,04 per kWh. Kondisi inilah yang membuat manufaktur di China tumbuh lebih pesat.
Harga listrik tersebut dibandingkan dengan harga listrik di Indonesia jauh lebih murah. Harga listrik di Indonesia sendiri saat ini berada di kisaran USD0,08 per kWh.
"Sehingga daya saing industri China untuk produksi-produksi yang sifatnya masif itu justru lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain," ujar Yuliot.
(NIA DEVIYANA)










