Mentan Kenalkan PM-ASS, Pertanian Modern yang Bisa Dongkrak Produksi Padi hingga 13 Ton per Hektare
IDXChannel - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, memperkenalkan metode Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus memperbesar pendapatan petani.
Dia megatakan bahwa metode yang telah diuji sekitar dua tahun tersebut menunjukkan hasil produksi yang meningkat tajam, dari rata-rata berada di kisaran 5-5,5 ton per hektare, dapat meningkat bahkan hingga 13 ton per hektare.
“Hasilnya sangat menggembirakan, naik dua kali lipat. Yang dulu rata-rata 5 ton, 5,5 ton, sekarang menjadi 11 ton, 12 ton, bahkan ada 13 ton per hektare,” kata Amran dalam kunjungannya di Subang, Jawa Barat, Rabu (2/8/2026).
Menurutnya, peningkatan produksi tersebut terutama didorong oleh optimalisasi populasi tanaman dalam satu hektare. PM-AAS mengatur jarak tanam sehingga jumlah tanaman dapat ditingkatkan secara signifikan tanpa harus menambah luas lahan.
“Kalau populasi 800 ribu, 13,8 gram dikalikan 800 ribu itu sekitar 11 ton. Kalau 900 ribu sekitar 12 ton, dan 1 juta bisa mendekati 13 ton,” ujar dia.
Amran mengatakan, peningkatan produktivitas memberikan peluang peningkatan pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan tambahan biaya budi daya. Dia menyebut tambahan biaya untuk benih, pupuk, dan kebutuhan budi daya akibat peningkatan populasi memang lebih tinggi sekitar Rp2 juta per hektare, tetapi menghasilkan pendapatan yang lebih besar.
“Lebih tinggi Rp2 juta, tetapi penghasilannya naik Rp30 juta, Rp35 juta. Jadi bertambah biaya Rp2 juta tetapi bertambah penghasilan Rp35 juta,” ujar Amran.
Dengan harga pembelian gabah pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram, kenaikan produksi dari sekitar 5 ton menjadi 10 ton per hektare , itu artinya penerimaan kotor petani dapat meningkat sekitar Rp32,5 juta per hektare.
Menurut Amran, angka tersebut menunjukkan bahwa tambahan biaya budi daya relatif kecil dibandingkan potensi tambahan penerimaan dari peningkatan produksi dengan metode ini.
Selain meningkatkan populasi tanaman, PM-AAS menggunakan sistem direct seeding atau tanam langsung. Benih ditanam langsung tanpa melalui proses persemaian dan pemindahan bibit.
Amran menilai, efisiensi waktu tersebut juga membuka peluang peningkatan indeks pertanaman, terutama pada lahan yang memiliki dukungan irigasi memadai. Waktu yang lebih singkat memungkinkan lahan dimanfaatkan lebih optimal untuk penanaman berikutnya.
“Ini langsung direct seeding. Tidak ada lagi biaya untuk pembibitan. Pembibitan bisa memakan waktu dua sampai tiga minggu, kemudian pindah tanam. Ini langsung,” ujar dia.
(NIA DEVIYANA)










