Gubernur BI Sebut Defisit Transaksi Berjalan Jadi Penyebab Utama Rupiah Melemah
IDXChannel - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan penyebab utama nilai tukar rupiah kerap berada dalam posisi rentan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, hal tersebut dipicu struktur Neraca Transaksi Berjalan (Current Account Deficit/CAD) Indonesia yang cenderung terus mengalami defisit.
Destry menjelaskan porsi transaksi berjalan Indonesia secara historis hampir selalu mencatatkan angka negatif.
"Indonesia ini negara berkembang, kita selalu menghadapi current account deficit. Negara dengan current account deficit, cenderung currency-nya akan rentan," kata Destry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026).
Destry menambahkan, kerentanan nilai tukar akibat defisit transaksi berjalan ini idealnya dapat diimbangi dengan aliran modal masuk (capital inflow) yang bersifat jangka panjang dan permanen, seperti investasi langsung (Foreign Direct Investment/FDI).
Namun, upaya menarik modal berjangka panjang tersebut masih menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia.
Sebagai informasi, Bank Indonesia mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II-2026 membengkak menjadi sebesar US12,5 miliar atau setara 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut melonjak hingga 3,5 kali lipat dibandingkan posisi kuartal I-2026 yang sebesar US3,6 miliar (1 persen dari PDB).
Pelebaran defisit transaksi berjalan ini terutama didorong oleh melambungnya nilai impor minyak dan gas (migas) akibat kenaikan harga minyak mentah dunia, serta menipisnya surplus neraca perdagangan nonmigas seiring tingginya kebutuhan permintaan barang impor di dalam negeri.
Di tengah bayang-bayang tekanan defisit transaksi berjalan dan sentimen pasar global, nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (28/9/2026) kembali mengalami pelemahan.
Mengacu data kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, Rupiah terkoreksi ke kisaran Rp17.900 - Rp17.920 per USD, melanjutkan tren tertekan akibat tingginya permintaan valuta asing serta penguatan indeks dolar AS di pasar keuangan internasional.
(NIA DEVIYANA)









