Demo Korupsi Jembatan Cirauci di Kejati Sultra Ricuh, Sejumlah Orang Diamankan

Demo Korupsi Jembatan Cirauci di Kejati Sultra Ricuh, Sejumlah Orang Diamankan

Nasional | inews | Senin, 11 Mei 2026 - 17:47
share

KENDARI, iNews.id – Aksi demonstrasi yang digelar Gerakan Koalisi Mahasiswa (GKM) di kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara (Kejati Sultra) berlangsung ricuh, Senin (11/5/2026) siang. Aksi ini merupakan desakan agar jaksa segera menetapkan Bupati Bombana, Burhanuddin, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek Jembatan Cirauci.

Kericuhan bermula saat proses negosiasi antara massa aksi dan pihak Kejati Sultra berjalan alot. Massa merasa tidak puas karena Kepala Kejati Sultra sedang berada di luar kota dan tidak bisa menemui mereka secara langsung. 

Kesal karena negosiasi yang berlarut-larut, massa mulai anarkis dengan merangsek masuk dan memanjat pagar kantor. Aksi saling kejar antara pengunjuk rasa dan pegawai Kejati Sultra pun tak terhindarkan di pelataran kantor. 

Akibat bentrokan tersebut, seorang pegawai Kejati Sultra dilaporkan mengalami luka serius di bagian kepala setelah terkena lemparan benda tumpul. Petugas yang berjaga di lokasi langsung bergerak cepat mengamankan sejumlah pengunjuk rasa yang diduga menjadi pemicu kericuhan.

"Situasi sempat tidak terkendali saat massa memaksa masuk. Satu rekan kami terluka di kepala," ujar salah satu saksi di lingkungan Kejati Sultra.

Dalam orasinya, massa GKM mendesak Kejati Sultra untuk melakukan pengembangan kasus dugaan korupsi proyek Jembatan Cirauci di Buton Utara tahun anggaran 2021. Proyek tersebut memiliki nilai pagu sebesar Rp2.130.680.000. 

Massa menuntut agar Bupati Bombana, Burhanuddin, dimintai pertanggungjawaban hukum. Hal ini merujuk pada peran Burhanuddin yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan Bina Marga Sultra sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam proyek tersebut.

"Kami minta Kejati tidak tebang pilih. Peran KPA sangat sentral dalam kerugian negara pada proyek Jembatan Cirauci ini," kata Saleh Salehudin, salah satu koordinator aksi. 

Sebelum kericuhan pecah, massa aksi sempat melakukan aksi teatrikal sebagai simbol matinya keadilan. Mereka meletakkan keranda mayat, melepas sejumlah tikus, hingga menyembelih ayam di depan gerbang kantor Kejati Sultra.

Aksi ini disebut sebagai representasi ketidakpercayaan mahasiswa terhadap integritas penegak hukum dalam menangani kasus korupsi di Sulawesi Tenggara.

Topik Menarik