Payudara Bengkak saat Menyusui Jangan Dianggap Biasa, Bisa Jadi Gejala Mastitis
JAKARTA, iNews.id – Banyak ibu menyusui menganggap payudara bengkak dan nyeri hanyalah masalah biasa akibat ASI yang menumpuk. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal mastitis.
Mastitis merupakan peradangan pada jaringan payudara yang berisiko berkembang menjadi abses atau kantung nanah jika tidak ditangani dengan tepat. Masalah ini kerap diabaikan, padahal sangat berbahaya bila telat ditangani.
Seperti apa penjelasan selengkapnya mengenai masalah ini? Simak ulasannya hanya di artikel ini.
Jangan Abaikan Payudara Bengkak saat Menyusui
Masa menyusui memang menjadi momen membahagiakan bagi seorang ibu. Namun di balik itu, tidak sedikit ibu yang mendadak mengalami nyeri hebat pada payudara, tubuh menggigil, hingga merasa lemas. Gejala ini kerap membuat bingung karena sekilas mirip dengan saluran ASI tersumbat.
Menurut Dokter Spesialis Bedah Umum Bethsaida Hospital Gading Serpong dr Natalia Maria Christina, Sp.B, ibu perlu mengenali perbedaan antara saluran ASI tersumbat dan mastitis agar penanganannya tidak keliru.
"Ibu perlu memperhatikan apakah keluhan hanya terasa di satu area payudara, atau sudah disertai demam, menggigil, dan rasa tidak enak badan. Gejala sistemik seperti ini dapat mengarah ke mastitis dan perlu pemeriksaan lebih lanjut," jelas dr Natalia dalam keterangan resminya, Rabu (3/6/2026).
Secara medis, kata dr Natalia, saluran ASI tersumbat dan mastitis sebenarnya berada dalam satu rangkaian masalah yang saling berkaitan. Saluran ASI tersumbat terjadi ketika ASI terperangkap di jaringan payudara akibat aliran yang tidak lancar.
Sementara mastitis merupakan kondisi peradangan yang bisa muncul akibat bendungan ASI berkepanjangan atau infeksi bakteri yang masuk melalui luka pada puting.
Yang sering tidak disadari, kesalahan penanganan justru bisa memperparah kondisi. Salah satunya adalah memijat payudara terlalu keras dengan tujuan menghancurkan sumbatan ASI.
"Kekeliruan yang sering terjadi adalah memijat payudara yang bengkak dengan keras demi menghancurkan sumbatan. Secara klinis, tindakan ini berbahaya karena dapat merobek jaringan internal payudara yang meradang, sehingga infeksi justru meluas. Pijatan harus dilakukan dengan sangat lembut, seperti usapan," ungkapnya.
Untuk mengatasi saluran ASI tersumbat, ibu dianjurkan tetap menyusui secara rutin agar payudara kosong dengan optimal. Kompres hangat sebelum menyusui dan kompres dingin setelahnya juga dapat membantu mengurangi keluhan. Selain itu, posisi menyusui dan pelekatan mulut bayi perlu diperhatikan agar ASI dapat keluar dengan lancar.
Namun, jika dalam waktu 24 hingga 48 jam keluhan tidak membaik atau muncul demam tinggi, kemerahan yang meluas, dan tubuh menggigil, ibu sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Pada kondisi mastitis, dokter dapat memberikan obat pereda nyeri, antiinflamasi, hingga antibiotik jika ditemukan tanda infeksi bakteri. Penanganan dini menjadi sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
"Jangan remehkan demam tinggi serta payudara yang mengeras dan memerah saat menyusui. Mastitis yang tidak cepat ditangani bisa berkembang menjadi abses atau kantung nanah di dalam payudara. Jika sudah sampai tahap abses, penanganannya tidak cukup dengan obat-obatan, melainkan harus melalui tindakan pembedahan kecil atau drainase untuk mengeluarkan nanah tersebut," tegas dr. Natalia.
Sementara itu, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, menegaskan pentingnya dukungan medis bagi ibu menyusui yang mengalami masalah kesehatan selama masa laktasi.
"Tim Women's Health Center siap memberikan evaluasi tepat, edukasi, dan dukungan medis yang hangat, sehingga ibu dapat melanjutkan menyusui dengan percaya diri," katanya.
Karena itu, para ibu perlu lebih waspada jika payudara terasa nyeri, membengkak, atau muncul gejala seperti demam dan menggigil. Mengenali tanda-tanda mastitis sejak dini bisa membantu mencegah komplikasi yang lebih berat dan menjaga kelancaran proses menyusui.










