Palestina: Militer Israel Kuasai 80 Wilayah Gaza
KUALA LUMPUR, iNews.id - Militer Israel dilaporkan telah menguasai sekitar 80 persen wilayah Jalur Gaza, jauh melampaui klaim resmi para pejabat Israel yang sebelumnya menyebut pasukannya mengendalikan sekitar 60 persen wilayah tersebut. Data terbaru itu diungkap Pemerintah Otoritas Palestina di tengah berlanjutnya operasi militer Israel meski gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025.
Berdasarkan laporan terbaru Pemerintah Otoritas Palestina yang dirilis 6 Juli, pasukan Israel terus memperluas wilayah kekuasaannya di Gaza dengan merebut satu demi satu kawasan strategis.
Laporan tersebut juga menyebut lebih dari 90 persen wilayah Jalur Gaza telah hancur sejak perang antara Israel dan kelompok pejuang Palestina pecah pada Oktober 2023. Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, militer Israel disebut masih terus melakukan penghancuran dan operasi militer di berbagai wilayah.
Angka penguasaan 80 persen itu jauh lebih tinggi dibandingkan pengakuan pejabat Israel yang sebelumnya menyatakan pasukan mereka telah mengendalikan sekitar 60 persen wilayah Gaza. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan sebelumnya memerintahkan militer untuk menguasai hingga 70 persen wilayah tersebut.
Laporan yang mengutip sumber-sumber lokal dan dirilis Pusat Komunikasi Pemerintah di bawah Kantor Perdana Menteri Palestina yang berbasis di Tepi Barat mengungkap, sepanjang periode 29 Juni hingga 6 Juli, militer Israel mengintensifkan operasi di Khan Younis, Rafah, dan Kota Gaza.
"Pasukan pendudukan Israel (IDF) juga menembaki wilayah permukiman serta menghancurkan banyak rumah, menyebabkan lebih banyak keluarga mengungsi," demikian isi laporan.
Tidak hanya di Jalur Gaza, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) juga meningkatkan operasi militer di seluruh wilayah Tepi Barat. Operasi itu meliputi penggerebekan rumah-rumah warga, penangkapan, pembatasan pergerakan, hingga pemblokiran jalan di sejumlah kota dan desa Palestina, termasuk Ramallah, Nablus, Hebron, Bethlehem, Jenin, Qalqilya, Tulkarem, dan Yerusalem.
Di sisi lain, para pemukim ilegal Israel yang mendapat perlindungan aparat keamanan juga melakukan berbagai aksi kekerasan terhadap warga Palestina. Mereka disebut membakar sebuah kafe di Desa Al Lubban Ash Sharqiya, menyerang para penggembala di timur Bethlehem, berupaya mencuri ternak, serta memblokir akses masuk ke Desa Burqa.
Kementerian Pertanian Palestina turut melaporkan peningkatan signifikan serangan terhadap sektor pertanian di Tepi Barat. Sebanyak 2.559 pohon zaitun dilaporkan tumbang, dibakar, atau dirusak, terutama di Provinsi Salfit, Jenin, dan Nablus.
Akibat serangan tersebut, sedikitnya 125 petani terdampak dengan nilai kerugian langsung diperkirakan mencapai 11,78 juta dolar AS atau sekitar Rp211 miliar.










