Muktamar ke-35 NU, Gus Yusuf Siap Bertarung dengan Gus Kikin jadi Ketum PBNU
JOMBANG, iNews.id – Jelang pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dua bakal calon siap bertarung memperebutkan suara warga Nahdliyin.
Pemilihan Ketum PBNU periode 2026–2031 tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (29/8/2026) malam.
Dua sosok yang menyatakan kesiapannya maju yakni Pengasuh Ponpes Tegalrejo Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) serta Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).
Pada Jumat (28/8/2026) siang, Gus Yusuf menggelar konsolidasi bersama para Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di sebuah kediaman dekat lokasi arena Muktamar. Dalam pertemuan tersebut, Gus Yusuf juga menyerahkan bantuan dana kemanusiaan kepada dua PCNU asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang wilayahnya terdampak bencana gempa bumi.
Gus Yusuf mengklaim telah mengantongi dukungan resmi lebih dari 200 PCNU se-Indonesia untuk maju menduduki kursi nomor satu di PBNU. Ia mengimbau agar proses pemilihan bebas dari praktik politik uang.
"Pertemuan ini adalah peneguhan bersama PCNU untuk mewujudkan Muktamar yang solutif. Kita berharap para peserta Muktamar dapat memilih calon ketua murni menggunakan hati nurani tanpa ada intervensi politik uang," kata Gus Yusuf.
Sementara itu, gelombang kedatangan tamu dan pengurus wilayah mulai memadati Ponpes Tebuireng, Jombang. Gus Kikin menegaskan kesiapannya untuk maju sebagai calon Ketum PBNU dalam kontestasi Sabtu malam.
Gus Kikin mengungkapkan bahwa pencalonan dirinya murni atas dorongan dan usulan dari jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) serta PCNU dari berbagai daerah di Indonesia.
"Kalau untuk pemilihan, saya siap dan pasti siap. Ini kan merupakan sebuah proses panjang. Saya tidak mencalonkan diri, melainkan dicalonkan oleh PWNU dan PCNU," ujar Gus Kikin.
Jika dipercaya memimpin PBNU lima tahun ke depan, Gus Kikin telah menyiapkan sejumlah program prioritas, terutama sektor penguatan dan kemandirian ekonomi bagi warga Nahdliyin yang dinilainya belum tergarap secara maksimal.










