Nobar Film Pesta Babi di Universitas Mataram Dibubarkan Rektorat, Ini Alasannya
MATARAM, iNews.id – Kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul “Pesta Babi” yang diselenggarakan oleh mahasiswa di lingkungan Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat, dibubarkan paksa oleh pihak rektorat, Senin (11/5/2026). Pembubaran dilakukan sesaat sebelum film tersebut mulai ditayangkan.
Sekitar pukul 18.55 WITA, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unram, Sujita, bersama puluhan petugas keamanan kampus mendatangi lokasi acara. Pihak rektorat langsung meminta panitia penyelenggara untuk membatalkan pemutaran film tersebut.
Sujita menegaskan, langkah ini diambil demi menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan universitas. Pihak rektorat menilai konten film tersebut tidak layak ditonton dalam lingkup kampus karena dikhawatirkan dapat menimbulkan ketersinggungan pihak tertentu.
"Kami membatalkan pemutaran ini demi menjaga kondusivitas kampus. Kami menilai film ini tidak layak ditonton (di sini)," ujar Sujita di hadapan para mahasiswa.
Sesalkan Pembubaran
Modus Licik Bupati Tulungagung Peras Pejabat, Paksa Tandatangani Pernyataan Mundur Tanpa Tanggal
Di sisi lain, pihak penyelenggara menyatakan kekecewaan mendalam atas tindakan represif pihak birokrasi kampus. Perwakilan penyelenggara, Haerul Ikhwan Ali, menilai alasan pembubaran yang disampaikan pihak rektorat sangat subjektif dan tidak memiliki dasar hukum yang kuat.
"Kami sangat menyesalkan keputusan ini. Pembatalan dilakukan secara mendadak tanpa ada penjelasan atau dasar hukum yang jelas dari pihak kampus," tutur Haerul.
Meskipun mendapat penolakan di dalam area kampus, semangat ratusan peserta yang sudah hadir tidak surut. Panitia akhirnya memutuskan untuk memindahkan lokasi pemutaran film ke luar area kampus Universitas Mataram agar diskusi tetap bisa berjalan.
Film "Pesta Babi" merupakan karya terbaru sutradara dokumenter ternama, Dandhy D. Laksono. Film ini menyoroti isu sensitif mengenai deforestasi skala besar dan dugaan perampasan tanah adat di tanah Papua.
Narasi dalam film tersebut menggambarkan dampak konversi hutan menjadi kawasan industri bagi keberlangsungan hidup masyarakat adat setempat. Isu inilah yang diduga menjadi pemantik kekhawatiran pihak rektorat sehingga memilih untuk melarang pemutarannya di area institusi pendidikan tersebut.










