Abdul Rahman Golkar ke Deddy Sitorus: Krisis Batu Bara Bukan Persoalan Baru

Abdul Rahman Golkar ke Deddy Sitorus: Krisis Batu Bara Bukan Persoalan Baru

Nasional | sindonews | Senin, 22 Juni 2026 - 20:48
share

Sekretaris Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik DPP Partai Golkar Abdul Rahman Farisi menanggapi pernyataan politikus PDIP Deddy Sitorus yang menyindir Partai Golkar terkait persoalan kelistrikan. Kritik yang disampaikan Deddy perlu ditempatkan secara objektif dengan melihat rekam jejak persoalan energi nasional secara menyeluruh.

Dia mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi ancaman krisis pasokan batu bara untuk pembangkit listrik PLN pada 2022 ketika Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dipimpin Arifin Tasrif.

Baca juga: India Krisis Batu Bara, Pemadaman Listrik Melanda Seluruh Negeri

Saat itu pemerintah mengakui pasokan batu bara untuk pembangkit listrik berada dalam kondisi kritis akibat rendahnya pemenuhan kewajiban pasokan domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) oleh sejumlah perusahaan tambang.

“Pak Deddy pernah membela Arifin Tasrif sebagai menteri yang direkomendasikan PDIP. Karena itu, Pak Deddy jangan amnesia politik. Lupa bahwa krisis batu bara PLN juga terjadi pada masa beliau,” ujarnya, Senin (22/6/2026). Menurut dia, pernyataan tersebut penting untuk mengingatkan publik bahwa persoalan listrik dan ketahanan energi bukanlah masalah yang muncul dalam beberapa bulan terakhir, melainkan tantangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan membutuhkan penyelesaian jangka panjang.

Dia menilai tidak tepat apabila setiap gangguan kelistrikan yang terjadi saat ini langsung diarahkan sebagai kesalahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia maupun Partai Golkar. Sebab, persoalan energi merupakan isu kompleks dan lintas waktu yang melibatkan banyak faktor, mulai dari pasokan energi primer, infrastruktur, hingga tata kelola sektor energi secara keseluruhan.

Jika Deddy ingin mengkritik kondisi energi saat ini, maka kritik tersebut seharusnya disampaikan secara konsisten dengan tetap mengakui bahwa tantangan serupa pernah terjadi pada masa menteri yang selama ini dibelanya.

"Bahkan kalau mau menghitung waktu Pak Bahlil itu belum cukup 2 tahun menjabat Menteri ESDM dibandingkan kawannya Pak Deddy menjadi Menteri ESDM selama 4 tahun, mestinya lebih memiliki waktu dalam menyelesaikan kelistrikan yang terkait dengan pembangkit, jaringan, dan batu bara," katanya.

Dia menegaskan fokus utama Menteri Bahlil saat ini dalam hal kelistrikan adalah membangun pembangkit baru bagi PLN dan menerangi ribuan desa yang saat ini belum menikmati layanan listrik. Visi Presiden Prabowo Subianto tentang listrik merupakan program prioritas untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan energi.

“Masyarakat membutuhkan solusi, bukan saling menyalahkan. Yang terpenting adalah memastikan pasokan energi nasional tetap aman dan pelayanan listrik kepada masyarakat terus terjaga,” ujar Abdul Rahman.

Topik Menarik