BKKBN Tekankan Peran Ayah Kunci Pembentukan Karakter Anak
Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 pada 2026 ditegaskan bukan sekadar agenda seremonial tahunan melainkan momentum strategis untuk memperkuat peran keluarga sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga/Deputi IV Nopian Andusti mengatakan, berbagai persoalan sosial seperti kekerasan remaja, perundungan, penyalahgunaan narkoba, hingga pergaulan bebas, berakar dari lemahnya ketahanan keluarga. Maka itu, tema Ayah Wajib Hadir dalam Harganas tahun ini menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
Baca juga: BKKBN Gandeng Ulama untuk Wujudkan Keluarga Berkualitas
"Rumah harus menjadi tempat paling aman, nyaman, dan dirindukan oleh anak-anak. Keluarga adalah benteng pertama dalam mencegah perilaku berisiko," ujarnya dalam press briefing Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Senin (22/6/2026).
Menurut dia, kehadiran ayah tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga menyangkut keterlibatan emosional yang berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Sejumlah penelitian menunjukkan keterlibatan ayah memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan sosial-emosional, kesehatan mental, hingga prestasi akademik anak.Anak yang tumbuh dengan figur ayah yang hangat dan responsif cenderung memiliki kemampuan adaptasi dan kompetensi sosial yang lebih baik. Dalam konteks global, tantangan era disrupsi yang ditandai dengan kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) sehingga perubahan cepat akibat teknologi digital dan ketidakpastian ekonomi dinilai turut memengaruhi dinamika dalam keluarga.
"Kondisi ini membuat ketahanan keluarga menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Keluarga yang kuat akan melahirkan generasi sehat, berkarakter, dan berdaya saing," ucapnya.
Dia menuturkan Indonesia saat ini tengah berada pada fase bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Namun, peluang tersebut tidak akan otomatis menjadi keuntungan tanpa kualitas SDM yang unggul.
Untuk itu, BKKBN menekankan pembangunan keluarga melalui tiga pilar utama, yakni kesehatan keluarga, pendidikan karakter, serta ketahanan mental dan spiritual. Pada aspek kesehatan, pemenuhan gizi seimbang terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan menjadi prioritas untuk mencegah stunting.
Sementara dalam pendidikan karakter, keluarga berperan sebagai sekolah pertama dalam menanamkan nilai integritas, disiplin, dan tanggung jawab. Dalam aspek ketahanan mental, keluarga diharapkan menjadi ruang aman dengan komunikasi yang sehat serta dukungan emosional kuat bagi anak.
Nopian mengingatkan pentingnya penggunaan teknologi digital secara bijak. Orang tua diminta aktif mendampingi anak dalam penggunaan gadget, membatasi waktu layar, serta menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial.
Pemerintah berkomitmen terus memperkuat kebijakan yang berpihak pada keluarga, memperluas akses layanan dasar, serta mendorong terwujudnya keluarga Indonesia yang berkualitas. "Pembangunan keluarga adalah investasi jangka panjang. Tidak akan ada SDM unggul tanpa keluarga yang kuat, dan tidak akan ada Indonesia Emas 2045 tanpa generasi yang sehat dan berkarakter," ujarnya.








