Ini Harta Karun Tersembunyi di Greenland

Ini Harta Karun Tersembunyi di Greenland

Ekonomi | okezone | Senin, 19 Januari 2026 - 17:03
share

JAKARTA - Mengungkap harta karun yang berada di Greenland. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berambisi untuk menguasai Greenland. Namun, ambisi ini kembali menimbulkan kontroversi global.

Trump bahkan disebut ingin membeli Greenland dengan cara membayar setiap warganya uang bernilai miliaran rupiah.

Ambisi Trump juga ditunjukkan dengan ancaman pengenaan tarif bagi negara yang ikut campur dengan aksi akuisisi Greenland ini. Trump menyatakan akan memberlakukan tarif 10 persen terhadap barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari.

Tarif tersebut akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni, kecuali ada kesepakatan tentang pembelian penuh dan total Greenland oleh AS.

Para pemimpin Eropa menolak ancaman tarif tersebut dan kembali menegaskan solidaritas mereka dengan Denmark.

Sebelumnya pada Minggu, delapan negara Eropa itu mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam ancaman AS dan menegaskan kembali komitmen mereka terhadap keamanan Arktik dan kedaulatan nasional.

Harta Karun yang Tersembunyi di Greenland

Melansir BBC, Greenland merupakan pulau terbesar di dunia yang bukan benua terletak di Arktik. Ini juga merupakan wilayah dengan populasi terpadat. Sekitar 56.000 orang tinggal di sana, sebagian besar adalah penduduk asli Inuit.

Sekitar 80 wilayahnya tertutup es, artinya sebagian besar penduduk tinggal di pesisir barat daya sekitar ibu kota, Nuuk.

Ekonomi Greenland terutama bergantung pada perikanan, dan menerima subsidi besar dari pemerintah Denmark.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap sumber daya alam Greenland, termasuk penambangan mineral tanah jarang, uranium, dan besi, semakin meningkat.

Sumber daya ini mungkin menjadi lebih mudah diakses seiring dengan pemanasan global yang menyebabkan mencairnya lapisan es raksasa yang menutupi pulau tersebut.

Sumber daya mineral yang berharga telah menjadi fokus utama Trump di berbagai belahan dunia, termasuk dalam hubungannya dengan Ukraina.

Namun, Presiden AS tersebut mengatakan: "Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional, bukan untuk mineral."

China dan Rusia telah mulai memperkuat kemampuan militer mereka di Arktik dalam beberapa tahun terakhir, menurut sebuah laporan dari Arctic Institute. Laporan tersebut menyerukan agar AS lebih mengembangkan kehadirannya di Arktik untuk menyaingi pesaingnya.

Sementara, dilansir Independent, Greenland ternayata memiliki beberapa cadangan sumber daya alam terkaya di dunia.  Cadangan ini termasuk bahan baku penting seperti sumber daya seperti litium dan unsur tanah jarang (REE) yang sangat penting untuk teknologi ramah lingkungan, tetapi produksi dan keberlanjutannya sangat sensitif. 

Ditambah mineral dan logam berharga lainnya dan sejumlah besar hidrokarbon termasuk minyak dan gas juga disebut ada di Greenland.

 

PM Nielsen: Greenland Pilih Denmark Ketimbang Amerika Serikat

Perdana Menteri Greenland mengatakan rakyatnya akan memilih Denmark daripada Amerika Serikat (AS) jika diminta membuat pilihan seperti itu "di sini dan sekarang".

Pernyataan itu disampaikan Jens-Frederik Nielsen pada konferensi pers bersama Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, dan menjadi pernyataan terkuat dari perwakilan Greenland sejak Presiden AS Donald Trump kembali mengumumkan keinginan mencaplok wilayah otonom tersebut.

Trump mengatakan AS perlu "memiliki" Greenland untuk membela diri terhadap Rusia dan Tiongkok. Gedung Putih telah menyarankan membeli pulau itu, tetapi tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mencaploknya.

Denmark adalah anggota NATO dan PM Frederiksen telah memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer akan mengakhiri aliansi pertahanan trans-Atlantik tersebut.

Sikap Dewan Eropa Bahas Ancaman Tarif Tump

Dewan Eropa akan menggelar pertemuan luar biasa dalam beberapa hari ke depan untuk membahas rencana Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif yang dikaitkan dengan Greenland, kata Presiden Dewan Eropa Antonio Costa.

"Mengingat pentingnya perkembangan terkini dan guna memperkuat koordinasi, saya putuskan untuk menggelar pertemuan luar biasa Dewan Eropa dalam beberapa hari mendatang," tulis Costa di platform X pada Minggu (18/1).

Dia mengatakan negara-negara anggota Uni Eropa menegaskan kembali komitmen terhadap persatuan, hukum internasional, integritas teritorial, dan kedaulatan nasional, serta solidaritas dengan Denmark dan Greenland, termasuk menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan Arktik, khususnya melalui NATO.

Costa menambahkan bahwa para anggota menilai tarif tersebut akan merusak hubungan transatlantik dan tidak sejalan dengan perjanjian dagang Uni Eropa-AS.

Selain itu, mereka menyatakan kesiapan menghadapi segala bentuk pemaksaan dan tetap membuka dialog konstruktif dengan AS terkait isu-isu yang menyangkut kepentingan bersama.

 

Rencana AS di Greenland

Kepentingan keamanan AS di Greenland sudah ada sejak jauh sebelum itu.

Setelah Nazi Jerman menduduki daratan Denmark selama Perang Dunia II, AS menduduki pulau tersebut dan mendirikan pangkalan militer dan stasiun radio.

Setelah perang, pasukan AS tetap berada di Greenland. Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, yang sebelumnya dikenal sebagai Pangkalan Udara Thule, telah dioperasikan oleh AS sejak saat itu.

Pada 1951, perjanjian pertahanan dengan Denmark memberikan AS peran signifikan dalam pertahanan wilayah tersebut, termasuk hak untuk membangun dan memelihara pangkalan militer.

"Jika Rusia mengirim misil ke AS, rute terpendek untuk senjata nuklir adalah melalui Kutub Utara dan Greenland," kata Marc Jacobsen, dosen di Royal Danish Defence College.

"Itulah mengapa Pituffik Space Base sangat penting dalam mempertahankan Amerika Serikat."

Upaya Amerika Serikat untuk memperoleh Greenland juga sudah ada sebelum era Trump.

"Amerika Serikat telah beberapa kali mencoba untuk mengusir Denmark dari Greenland dan mengambil alih wilayah tersebut sebagai bagian dari Amerika Serikat, atau setidaknya memiliki kendali keamanan penuh atas Greenland," kata Lukas Wahden, penulis 66° North, sebuah buletin tentang keamanan Arktik.

Pada 1867, setelah membeli Alaska dari Rusia, Menteri Luar Negeri AS William H Seward memimpin negosiasi untuk membeli Greenland dari Denmark, tapi gagal mencapai kesepakatan.

Dan pada 1946, AS menawarkan untuk membayar $100 juta (setara dengan $1,2 miliar; £970 juta hari ini), tapi pemerintah Denmark menolak.

Meskipun merupakan bagian dari benua Amerika Utara, Greenland telah dikuasai oleh Denmark—yang berjarak hampir 3.000 km (1.860 mil)—selama sekitar 300 tahun.

Pulau ini dikelola sebagai koloni hingga pertengahan abad ke-20. Selama sebagian besar periode ini, Greenland tetap terisolasi dan miskin.

Pada 1953, Greenland menjadi bagian dari Kerajaan Denmark dan penduduk Greenland menjadi warga negara Denmark.

Pada 1979, referendum tentang otonomi memberikan Greenland kendali atas sebagian besar kebijakan di wilayahnya, sementara Denmark tetap mengendalikan urusan luar negeri dan pertahanan.

Greenland menjadi tempat bagi pangkalan militer Denmark maupun Amerika Serikat.

Topik Menarik