Dampak Perang AS-Israel vs Iran, Industri Logistik Siapkan Mitigasi

Dampak Perang AS-Israel vs Iran, Industri Logistik Siapkan Mitigasi

Ekonomi | okezone | Sabtu, 7 Maret 2026 - 14:10
share

JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memukul industri logistik global. Konflik ini mengganggu jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz dan Laut Merah, yang berdampak pada kenaikan biaya angkut serta perpanjangan waktu pengiriman barang.

CEO HMS Group, Reef Man, menyatakan bahwa situasi ini bukan sekadar isu geopolitik, melainkan tantangan bagi kelangsungan bisnis (survival business). Sejak eskalasi meningkat pada Sabtu lalu, perusahaan logistik harus menghadapi pengalihan rute kapal kargo melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan.

"Pengalihan rute ke Tanjung Harapan menambah waktu transit hingga lebih dari dua pekan. Saat ini kondisi sangat tidak kondusif, sehingga hampir semua pelayaran menghentikan layanan ekspor ke Timur Tengah maupun sebaliknya," ujar Reef Man di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

Strategi Mitigasi: Jalur Alternatif Sea-Air

Reef menjelaskan bahwa Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan internasional karena dilewati oleh lebih dari seperempat pasokan minyak dunia. Penutupan atau pemblokiran jalur ini otomatis memutus akses pasar ke negara-negara Timur Tengah.

Untuk menjaga arus barang tetap bergerak, HMS Group menyiapkan skenario terburuk dengan mencari skema alternatif, salah satunya adalah metode Sea-Air (Laut-Udara).

"Kami mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Misalnya, pengiriman melalui laut hingga ke Jeddah, kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menggunakan truk, atau dikombinasikan dengan pengiriman udara," tambahnya.

Ekspansi ke Vietnam sebagai Hub Strategis

Di tengah ketidakpastian global, HMS Group mengambil langkah strategis dengan melakukan ekspansi ke Vietnam. Langkah ini diambil sebagai bagian dari mitigasi risiko sekaligus optimalisasi pasar Asia Tenggara.

Setelah sukses membangun hub di Singapura, HMS Group kini membidik Vietnam karena pertumbuhan manufakturnya yang pesat. Banyak perusahaan besar dunia yang mengalihkan investasinya ke negara tersebut.

 

"Kami ingin memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan Vietnam. Potensi ekspor-impor sangat besar, terutama untuk bahan baku industri. Selain itu, Vietnam memiliki akses pasar yang sangat kuat ke Amerika Serikat (US)," jelas Reef.

Saat ini, HMS Group telah mengoperasikan layanan weekly direct open console LCL (Less than Container Load) dari 27 pelabuhan di seluruh dunia, termasuk pelabuhan utama di China, Taiwan, dan Ho Chi Minh, Vietnam.

Harapan De-eskalasi

Terkait kekhawatiran akan pecahnya Perang Dunia Ketiga akibat eskalasi ini, Reef berharap situasi dapat segera mereda. Meski demikian, dunia logistik dituntut untuk tetap adaptif sebagaimana saat menghadapi pandemi Covid-19.

"Kami berharap eskalasi ini menurun dan tidak meluas. Namun, dari sisi logistik, kami harus terus beradaptasi. Penutupan Selat Hormuz dan Laut Merah adalah tantangan nyata yang memerlukan respons cepat agar rantai pasok global tidak lumpuh total," pungkasnya

Topik Menarik