Tuding AS Langgar Gencatan Senjata Iran Isyaratkan Tolak Perundingan Putaran Kedua
ISLAMABAD – Iran telah memberi isyarat bahwa mereka tidak berencana mengirim perunding ke Islamabad untuk putaran baru perundingan dengan Amerika Serikat (AS). Sikap Teheran ini mengancam rencana Pakistan untuk memfasilitasi perundingan selama beberapa hari di antara negara-negara yang bertikai, kurang dari 48 jam sebelum gencatan senjata yang rapuh berakhir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pada Senin (20/4/2026) bahwa Washington telah “melanggar gencatan senjata sejak awal penerapannya”. Ia mengutip blokade laut AS di Selat Hormuz sejak 13 April dan penangkapan kapal kontainer Iran oleh militer AS pada malam hari sebagai pelanggaran gencatan senjata serta hukum internasional.
Dia memperingatkan bahwa jika AS dan Israel melancarkan agresi lagi, pasukan Iran “akan merespons dengan tepat”. Ia juga menegaskan kembali bahwa proposal 10 poin Teheran, yang diajukan sebelum putaran pertama perundingan di Islamabad, tetap menjadi dasar negosiasi apa pun.
“AS tidak belajar dari pengalaman,” kata Baghaei, sebagaimana dilansir Al Jazeera. “Hal ini tidak akan pernah membawa hasil yang baik.”
Dia menambahkan bahwa Iran telah memberi tahu Pakistan, selaku mediator utama kedua belah pihak, mengenai pelanggaran-pelanggaran tersebut. Para pejabat Pakistan sendiri menyatakan tetap berharap bisa membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan. Islamabad telah bersiap untuk menjadi tuan rumah perundingan putaran kedua antara AS dan Iran yang bertujuan untuk mengakhiri konflik mereka.
Namun, para pejabat mengakui bahwa meningkatnya ketegangan dalam beberapa jam terakhir telah mengaburkan prospek perundingan. Berbeda dengan perundingan putaran pertama yang diadakan di Islamabad pada 11 April, Pakistan bertujuan membuat AS dan Iran menyetujui perundingan selama beberapa hari hingga kesepakatan sementara—yang oleh para mediator disebut sebagai nota kesepahaman (MoU)—ditandatangani guna memperpanjang gencatan senjata.
Semua itu kini bergantung pada partisipasi Iran, yang menyatakan tidak memiliki rencana untuk berunding menyusul peningkatan ketegangan yang pesat selama 24 jam terakhir.
Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan pada Minggu (19/4/2026) bahwa perwakilannya akan menuju ke Pakistan untuk perundingan putaran kedua, mengingat batas waktu gencatan senjata akan berakhir pada Rabu (22/4/2026). Namun, Trump menyertai pengumumannya dengan menghidupkan kembali ancaman untuk mengebom fasilitas energi dan listrik Iran.
Ketegangan tidak mereda dalam semalam. Pada Senin dini hari, Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut AS, USS Spruance, telah mencegat sebuah kapal kargo berbendera Iran, Touska, yang panjangnya hampir 900 kaki (274 meter) di Teluk Oman setelah awak kapal menolak peringatan untuk berhenti.
Iran menggambarkan penyitaan kapal itu sebagai “pembajakan”. Kantor berita Iran, IRNA, menyatakan laporan mengenai perundingan putaran kedua di Islamabad “tidak benar” dan menyalahkan kurangnya kemajuan pada apa yang digambarkan sebagai “keserakahan” AS, tuntutan yang tidak masuk akal, serta pergeseran posisi yang terus-menerus.
Menurut IRNA, blokade laut yang diberlakukan oleh Trump pada 13 April—dua hari setelah perundingan putaran pertama di Islamabad—telah melanggar pemahaman gencatan senjata dan sejauh ini menghambat kemajuan dalam negosiasi.









