Kontroversi VAR di Balik Lolosnya Argentina ke Perempat Final
Kontroversi yang mewarnai kemenangan dramatis Argentina atas Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 tak lepas dari sejumlah keputusan VAR yang memicu perdebatan. Salah satu yang paling disorot adalah dianulirnya gol Mostafa Zico, keputusan yang dinilai bertolak belakang dengan standar kepemimpinan wasit sepanjang turnamen.
Sebelum Piala Dunia 2026 memasuki fase gugur, Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa para pengadil lapangan diminta membiarkan kontak fisik yang masih tergolong wajar demi menjaga tempo pertandingan. Data turnamen pun menunjukkan perubahan pendekatan tersebut.
Mengutip data BBC, Rabu (8/7/2026), rata-rata pelanggaran yang ditiup wasit turun menjadi 22,6 per pertandingan, dibandingkan 25 pada Piala Dunia 2022 dan 27 pada edisi 2018. Namun, pendekatan itu dipertanyakan saat VAR menganulir gol indah Mostafa Zico.
Baca Juga: Ganggu Messi, FIFA Selidiki Dugaan Rasisme IShowSpeed di Piala Dunia 2026
Dalam proses gol, pemain Mesir Attia dinilai sempat menarik tipis jersey dan menginjak kaki pemain Argentina tersebut sebelum bola masuk ke gawang. Secara teknis, insiden itu memang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran. Meski demikian, banyak pihak menilai keputusan tersebut tidak konsisten dengan standar toleransi kontak fisik yang selama ini diterapkan sepanjang turnamen. Perdebatan semakin menguat karena pada sejumlah pertandingan sebelumnya, kontak fisik serupa tidak memicu intervensi VAR.
Salah satu contohnya adalah insiden saat Aleksandar Pavlovic mengenai kepala Pedro Vite dalam proses gol Leroy Sane, yang tetap disahkan tanpa tinjauan ulang. Dalam kasus gol Mesir, VAR tetap berhak melakukan intervensi meski pelanggaran terjadi sekitar 17 detik sebelum bola masuk ke gawang.
Baca Juga: Zico Ngamuk, FIFA Tuding Selamatkan Messi
Alasannya, insiden tersebut dianggap sebagai bagian dari fase awal serangan yang secara langsung berujung gol. Di sisi lain, kubu Mesir juga mempertanyakan mengapa VAR tidak meninjau insiden yang melibatkan Mohamed Salah menjelang gol kemenangan Argentina.
Salah terjatuh di kotak penalti setelah bersenggolan dengan Julian Alvarez dan sempat meminta hadiah penalti. Namun, VAR memutuskan tidak melakukan intervensi.
Perbedaan utama dari dua insiden itu terletak pada konteks penilaiannya. Karena terjadi di dalam kotak penalti, VAR menggunakan ambang bukti yang lebih tinggi untuk memberikan penalti.
Tim VAR menilai kontak yang terjadi belum cukup kuat untuk membatalkan permainan atau menghadiahkan penalti kepada Mesir. Akibatnya, klaim penalti Salah ditolak, sementara gol penentu kemenangan Argentina tetap disahkan. Keputusan-keputusan tersebut kemudian menjadi pemicu utama kontroversi yang hingga kini masih memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola.









