Visi Besar dan Organisme Pesantren: Refleksi dari Bait Syair Abu Thayyib
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
Malam itu, di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqofah Jakarta, suasana buka puasa bersama terasa hangat. Para santri, alumni, dan undangan duduk melingkar, menanti waktu berbuka. Di tengah kebersamaan itu, Prof. KH. Said Aqil Siradj, MA, tokoh yang tak asing di telinga kita, membacakan sebuah bait syair.
Suaranya tenang, tapi kata-katanya menggetarkan:
على قدر أهل العزم تأتى العـزائموتأتى على قـدر الكـرام المكارموتعظم فى عين الصغير صغارهاوتصغر فى عين العظيم العظائم
"Menurut kadar ahli cita-cita, cita-citanya akan didapati,Menurut kadar orang mulia, kemuliaannya akan ditemui,Hal yang kecil nampak besar di mata orang bercita-cita kecil,Hal yang besar nampak kecil di mata orang bercita-cita besar."
Saya yang hadir di situ tiba-tiba tersentak. Dalam hati, saya bertanya: bukankah ini persis dengan apa yang selama ini saya tulis tentang organisme pesantren? Bahwa di balik setiap pesantren yang tumbuh besar, ada visi yang menjadi DNA-nya. Ada cita-cita yang menjadi energi penggeraknya.
Syair yang Hidup dalam Kitab Klasik
Bait syair yang dibacakan Prof. Said itu bukan sekadar untaian kata indah. Ia berasal dari kitab yang menjadi rujukan utama pesantren-pesantren di Nusantara: Ta'lim al-Muta'allim Thariq al-Ta'allum, karya Syekh al-Zarnuji. Kitab yang sejak abad ke-13 menjadi panduan para pencari ilmu dalam menata niat, adab, dan tentu saja, cita-cita.Dalam syarahnya, Syekh Ibrahim bin Isma'il menjelaskan bahwa bait ini mengajarkan tentang relasi antara kapasitas batin seseorang dengan cara ia memandang realitas. Orang dengan cita-cita kecil akan melihat gunung kecil pun sebagai penghalang besar. Sebaliknya, orang dengan cita-cita besar mampu melihat gunung besar sebagai anak tangga.
Di sinilah letak kedalaman ajaran pesantren: mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga membentuk cara pandang. Dan cara pandang inilah yang kelak menentukan seberapa jauh seorang santri akan melangkah.
Visi sebagai DNA Organisme Pesantren
Indonesia dan Slovakia Sepakati Perjanjian Bebas Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik dan Dinas
Dalam serial tulisan sebelumnya, saya mencoba membedah pesantren sebagai organisme hidup. Sidogiri dengan jaringan ekonominya, Termas sebagai bank gen keilmuan, Darunnajah sebagai organisme metropolitan, Gontor dengan nilai-nilai yang dirawat lintas generasi. Semua punya DNA, sistem imun, jaringan, dan kemampuan regenerasi.Tapi ada satu elemen yang mungkin belum saya gali cukup dalam: visi atau cita-cita besar.
Visi inilah yang menentukan:
DNA seperti apa yang akan diwariskan
Sistem imun seperti apa yang akan dibangun untuk melindungi diri dari ancaman
Jaringan seperti apa yang akan dikembangkan
Regenerasi seperti apa yang akan disiapkan
KH. Mahrus Amin di Darunnajah punya cita-cita besar: Gerakan Seribu Pesantren. Beliau tidak ingin Darunnajah hanya besar di Ulujami. Ia ingin tunas-tunasnya tersebar ke seluruh Nusantara. Kini, puluhan cabang telah berdiri.
KH. Nawawi Thoyib di Sidogiri punya cita-cita besar: membebaskan umat dari jerat rentenir. Dari situlah lahir BMT dengan 256 cabang dan aset Rp 1,2 triliun. Ekonomi pesantren menjadi perpanjangan dakwah, bukan tujuan.
Trimurti Gontor punya cita-cita besar: mencetak kader pemimpin umat. Dari tanah tandus di Ponorogo, lahirlah ribuan alumni yang tersebar di berbagai penjuru dunia, menjadi ulama, intelektual, negarawan.
Mereka semua adalah ahli al-'azm yaitu orang-orang bercita-cita besar. Dan seperti kata syair, 'ala qadri ahlil 'azmi ta'til 'azaim: pada kadar merekalah cita-cita itu terwujud.Sistem Imun: Cara Pandang terhadap Tantangan
Bagian paling menarik dari syair Abu Thayyib adalah dua baris terakhir:
وتعظم فى عين الصغير صغارهاوتصغر فى عين العظيم العظائم
"Hal yang kecil nampak besar di mata orang bercita-cita kecil,Hal yang besar nampak kecil di mata orang bercita-cita besar."
Ini adalah pelajaran tentang sistem imun dalam organisme pesantren.
Coba bayangkan: Ketika sebuah pesantren baru berdiri dengan 10 santri, apa yang dilihat oleh pengasuhnya?
Pengasuh dengan cita-cita kecil akan melihat 10 santri sebagai "cukup", sebagai "sudah lumayan". Ia akan berhenti di situ.
Pengasuh dengan cita-cita besar akan melihat 10 santri sebagai bibit. Ia akan bertanya: bagaimana tahun depan bisa 20, lalu 50, lalu 100?
Ketika ada kendala dana, pengasuh bercita-cita kecil akan melihatnya sebagai alasan untuk berhenti. Pengasuh bercita-cita besar akan melihatnya sebagai tantangan yang harus dicari solusinya.Di sinilah cara pandang menjadi penentu. Dan cara pandang ini, dalam organisme pesantren, adalah bagian dari sistem imun. Ia melindungi pesantren dari penyakit bernama keputusasaan dan rasa cukup sebelum waktunya.
KH. Abdullah Syukri Zarkasyi sering mengulang-ulang: "Lambat terbabat, malas tergilas, berhenti mati, mundur hancur." Ini adalah cerminan dari cara pandang orang bercita-cita besar. Ia melihat bahwa berhenti berarti mati. Maka ia terus bergerak, terus maju, terus tumbuh.
Jaringan Cita-cita
Acara buka puasa bersama di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqofah itu bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah aktivasi jaringan. Ketika Prof. Said Aqil Siradj duduk bersama para santri, asatidz dan alumni, terjadi aliran energi dan gagasan. Cita-cita besar dipertemukan, direkatkan, lalu disebarkan kembali.Dalam organisme pesantren, jaringan adalah sistem peredaran darah. Ia membawa nutrisi ke seluruh tubuh. Dan nutrisi terpenting yang dibawa adalah cita-cita.
Prof. Said, dengan pengalamannya memimpin PBNU selama bertahun-tahun, membawa perspektif tentang Islam di Nusantara, tentang kebangsaan, tentang bagaimana pesantren harus berperan di tengah perubahan zaman. Para santri mendengarkan. Mereka tidak hanya mendapat ilmu, tapi juga cita-cita.
Inilah yang dimaksud dengan regenerasi visi. Cita-cita besar tidak cukup diwariskan lewat teks. Ia harus dihidupkan lewat pertemuan, lewat teladan, lewat kehangatan kebersamaan.
Refleksi: Cita-cita sebagai Energi Batin
KH. Ahmad Suharto dalam Senarai Kearifan Gontory menulis: "Yang membuat pesantren abadi bukanlah gedung megah atau jumlah santri yang banyak. Tapi nilai-nilai yang terus dirawat, dan energi batin yang tak pernah padam."Energi batin itu adalah cita-cita besar.
Cita-cita besar adalah yang membuat KH. Abdul Manaf Mukhayyar, KH. Qomaruzzaman, dan KH. Mahrus Amin bertahan di tanah wakaf Ulujami dengan santri pertama tiga orang. Mereka melihat tiga santri bukan sebagai keterbatasan, tapi sebagai awal dari ribuan tunas yang akan lahir kelak.
Cita-cita besar adalah yang membuat KH. Nawawi Thoyib merintis BMT dari nol, bukan untuk kaya, tapi untuk membebaskan umat dari rentenir. Ia melihat kemiskinan di sekitarnya sebagai tantangan yang harus dijawab, bukan sebagai alasan untuk diam.
Cita-cita besar adalah yang membuat Trimurti Gontor terus menanamkan nilai, meski hasilnya kadang baru terlihat puluhan tahun kemudian. Mereka percaya bahwa dari tanah tandus di Ponorogo akan lahir kader-kader pemimpin bangsa.Dan cita-cita besar adalah yang membuat Prof. Said Aqil Siradj, di usianya yang tak lagi muda, masih bersedia hadir di pesantren-pesantren, membacakan syair, menanamkan nilai, menyambung mata rantai perjuangan.
Penutup
Malam itu, usai berbuka, saya sempat berbincang sebentar dengan seorang santri. Matanya berbinar penuh semangat. "Prof. Said tadi bacakan syair itu, saya jadi terharu, Ust. Saya jadi ingat cita-cita saya waktu pertama kali masuk pesantren dulu."Saya tersenyum. "Jaga terus cita-cita itu, Nak. Karena pada kadar cita-citamulah, masa depanmu akan terwujud."
Syair Abu Thayyib yang dibacakan Prof. Said bukan sekadar kutipan indah. Ia adalah rumusan tentang hukum kehidupan. Bahwa besarnya hasil ditentukan oleh besarnya cita-cita. Bahwa cara pandang terhadap tantangan ditentukan oleh kapasitas batin kita.
Dalam organisme pesantren, ini adalah pelajaran paling dasar: visi menentukan arah, cita-cita menentukan energi, dan cara pandang menentukan ketahanan.
Maka, di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri: sebesar apa cita-cita kita untuk pesantren kita? Apakah kita masih melihat 10 santri sebagai "cukup"? Apakah kita masih menganggap kendala dana sebagai alasan untuk berhenti?
Atau, kita sudah bisa berkata bersama Abu Thayyib: "Hal yang besar nampak kecil di mata orang bercita-cita besar."
Karena pada akhirnya, organisme pesantren yang sehat bukan yang terbesar, tapi yang memiliki cita-cita terbesar. Ia akan terus tumbuh, melintasi generasi, melampaui zaman. Seperti pohon pisang yang berbuah, lalu mati, tapi meninggalkan tunas-tunas baru yang tak terhitung jumlahnya.
Dan dari tunas-tunas itulah, peradaban terus berlanjut.
*) Muhammad Irfanudin Kurniawan, peneliti organisme pesantren. Dosen di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku: Organisme Pesantre, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat. Masih terus belajar dari pesantren-pesantren di Nusantara.










