Kemacetan Gerbang Tol saat Mudik, Pengamat Dorong Sistem Tanpa Henti

Kemacetan Gerbang Tol saat Mudik, Pengamat Dorong Sistem Tanpa Henti

Nasional | sindonews | Jum'at, 20 Maret 2026 - 00:16
share

Kemacetan panjang di pintu tol saat arus mudik kembali terjadi tahun ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar lonjakan jumlah kendaraan, melainkan hambatan struktural pada sistem transaksi di gerbang tol.

Pengamat transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo, menilai sistem pembayaran berbasis tapping e-money menjadi titik krusial yang menurunkan kapasitas jalan secara signifikan. Dalam teori lalu lintas, gerbang tol merupakan "bottleneck" atau titik penyempitan kapasitas karena kendaraan harus melambat bahkan berhenti.

"Dengan waktu layanan per kendaraan sekitar 4–5 detik, ketika volume lalu lintas meningkat dua hingga tiga kali lipat saat mudik, akumulasi antrean menjadi tidak terhindarkan," ujar Anton, Kamis (19/3/2026).

Ia menjelaskan, selisih waktu beberapa detik dalam kondisi arus puncak dapat berkembang menjadi antrean panjang yang meluber hingga ke lajur utama. Dampaknya, kepadatan tidak hanya terjadi di gerbang tol, tetapi juga merambat ke ruas jalan sebelumnya secara sistemik.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Anton menyebut perlu langkah jangka pendek melalui optimalisasi operasional. Di antaranya penambahan gardu tol, termasuk gardu satelit di titik krusial seperti Cikampek Utama dan Kalikangkung.Selain itu, rekayasa lalu lintas seperti contraflow, pengaturan lajur, hingga kebijakan open barrier saat puncak arus dinilai efektif mengurai antrean. Penggunaan mobile reader serta pengelolaan distribusi kendaraan ke rest area juga penting untuk mencegah penumpukan di satu titik.

Namun secara struktural, solusi paling efektif adalah menghilangkan titik henti di jalan tol. "Inti masalahnya ada pada friction point di gerbang tol. Jika ini dihilangkan, arus lalu lintas bisa menjadi free flow," kata Anton.

Ia mendorong penerapan sistem pembayaran nirsentuh dan nirhenti atau Multi Lane Free Flow (MLFF) sebagai solusi jangka panjang. Sistem ini memungkinkan kendaraan melintas tanpa berhenti, sehingga kapasitas jalan meningkat tanpa perlu ekspansi fisik.

Sebagai tahap transisi, ia menyarankan penerapan single lane free flow sebelum implementasi penuh MLFF.

Secara prinsip, MLFF bekerja dengan mendeteksi pergerakan kendaraan secara otomatis menggunakan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) yang terhubung dengan aplikasi di smartphone.Melalui sistem ini, maka kendaraan terdeteksi otomatis, sistem mencocokkan dengan jaringan jalan tol, tarif dihitung berdasarkan jarak tempuh, dan saldo dipotong secara elektronik melalui aplikasi.

Pemantauan juga didukung kamera Automatic Number Plate Recognition (ANPR) yang mampu membaca pelat nomor dengan akurasi tinggi, bahkan pada kecepatan 100–150 km/jam dalam berbagai kondisi cuaca dan pencahayaan. Sensor tambahan digunakan sebagai verifikasi dan kontrol.

Dengan sistem ini, seluruh proses berlangsung real time tanpa menghentikan kendaraan. Gerbang tol untuk transaksi tapping tidak lagi diperlukan, sehingga arus lalu lintas menjadi bebas hambatan.

Anton menegaskan, secara teoritis maupun praktik internasional, MLFF mampu menghilangkan bottleneck di gerbang tol. Negara seperti Hungaria dan Singapura yang telah menerapkan sistem open road tolling mencatat penurunan delay hingga lebih dari 90 persen.

Namun, efektivitas MLFF bergantung pada dua faktor utama, akurasi sistem identifikasi kendaraan dan kekuatan penegakan hukum (law enforcement). Tanpa keduanya, potensi kesalahan transaksi dan pelanggaran seperti saldo tidak mencukupi dapat mengurangi manfaat sistem.Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo memastikan proyek MLFF tetap berjalan meski sempat menghadapi kendala teknis dan nonteknis.

"MLFF itu tetap berproses. Ada sedikit masalah, tetapi sudah dibereskan. Karena melibatkan banyak pihak, tentu perlu waktu untuk merapikannya," ujarnya dalam media gathering persiapan mudik Lebaran 2026.

Ia menambahkan, pengujian sistem akan terus dilakukan untuk memastikan kesiapan teknologi sebelum implementasi lebih luas. Proyek MLFF sendiri telah diinisiasi sejak 2016 saat kunjungan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban ke Indonesia. Sistem ini dikembangkan oleh Roatex Ltd. melalui PT Roatex Indonesia Toll System (RITS), dengan pendanaan dari pemerintah Hungaria senilai US$300 juta atau sekitar Rp4,65 triliun.

Dengan implementasi MLFF, diharapkan kemacetan klasik di gerbang tol saat musim mudik dapat teratasi secara permanen.

Topik Menarik