Mengatasi Krisis Literasi, Menghidupkan Catur Pusat Pendidikan
HENDARMANKetua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor
Berbagai literatur dan teori menunjukkan bahwa tidak banyak yang lebih menentukan masa depan bangsa, selain kemampuan membaca. Namun, justru di titik inilah Indonesia menghadapi persoalan serius. Masalahnya bukan sekadar rendahnya minat baca, tetapi lemahnya ekosistem literasi secara keseluruhan.
Data mutakhir menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan Indonesia di peringkat ke-69 dari sekitar 80 negara, dengan skor literasi membaca masih jauh di bawah rata-rata negara OECD. Bahkan, sekitar 75 murid Indonesia belum mencapai standar minimum literasi membaca. Di sisi lain, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada 2023 baru berada di angka sekitar 64,68, menunjukkan capaian yang masih moderat.
Ironisnya, tingkat melek huruf secara dasar sebenarnya sudah tinggi yaitu mendekati 96. Artinya, persoalan literasi di Indonesia bukan lagi soal bisa membaca atau tidak, tetapi kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi. Kita harus jujur bahwa sebenarnya Indonesia tidak sedang menghadapi krisis kemampuan membaca, tetapi krisis budaya literasi.
Literasi sebagai Fondasi PeradabanDalam kajian akademik, literasi tidak lagi dimaknai semata sebagai kemampuan membaca dan menulis. UNESCO (2024) mendefinisikan literasi sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi dalam berbagai konteks.Sejalan dengan itu, Brian Street (1984) membedakan literasi dalam dua model. Model pertama autonomous model, menempatkan literasi sebagai keterampilan teknis. Model kedua, ideological model menempatkan literasi sebagai praktik sosial yang dipengaruhi budaya
Selama ini Indonesia cenderung terjebak pada model pertama yaitu lebih mengejar angka, skor, dan kemampuan dasar tanpa membangun budaya literasi sebagai praktik hidup. Padahal, menurut Paulo Freire, literasi adalah proses “membaca dunia”, bukan sekadar membaca teks. Artinya, literasi adalah alat pembebasan, bukan sekadar kompetensi akademik.
Ekosistem yang TerfragmentasiMengapa literasi Indonesia sulit berkembang? Jawabannya bukan tunggal, melainkan sistemik. Secara sederhana, literasi di Indonesia masih belum berhasil atau masih gagal karena tidak ditopang oleh ekosistem yang utuh. Pertama, ketimpangan akses dan kualitas. Banyak daerah masih kekurangan bahan bacaan bermutu, perpustakaan aktif, dan ruang belajar yang mendukung.
Kedua, kualitas pembelajaran di sekolah. Praktik pembelajaran masih berorientasi hafalan, bukan pemahaman mendalam. Ini terlihat dari rendahnya kemampuan murid dalam menafsirkan teks kompleks pada PISA.
Ketiga, minimnya budaya membaca di keluarga. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca anak sangat ditentukan oleh lingkungan rumah. Keempat, pengaruh media digital. Era digital menghadirkan paradoks dimana informasi melimpah di satu sisi, tetapi di sisi lain kedalaman membaca justru menurun.Menghidupkan Catur Pusat PendidikanMenarik bahwa kementerian yang mengurusi pendidikan dasar dan menengah telah melibatkan ekosistem pendidikan yang disebut sebagai Catur Pusat Pendidikan. Catur pusat pendidikan meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, dan media. Keputusan kementerian dikatakan positif karena pendekatan ini sering di masa lalu, hanya menjadi jargon, bukan strategi operasional. Padahal, catur pusat pendidikan dapat menjadi fondasi transformasi literasi nasional.
Banyak yang belum menyadari, keluarga merupakan fondasi literasi sejak dini sebagai sekolah pertama. Studi internasional menunjukkan bahwa anak yang dibacakan buku sejak dini memiliki kemampuan literasi lebih tinggi. Praktik baik dapat dilihat di Finlandia, dimana program family literacy menjadi bagian dari kebijakan nasional. Orang tua didorong membaca bersama anak setiap hari. Sebenarnya di Indonesia sudah ada beberapa gerakan seperti Gerakan Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Sayangnya gerakan-gerakan tersebut masih belum secara masif.
Sekolah atau satuan pendidikan sering menjadi tumpuan utama, tetapi pendekatannya masih terbatas. Selama ini satuan pendidikan hanya dianggap sebagai tempat mengajar, dan bukan tempat membudayakan. Program seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sudah ada, tetapi implementasinya sering formalistik, yaitu sekadar membaca 15 menit tanpa strategi pedagogis yang kuat. Seharusnya pembelajaran literasi bergeser dari reading for compliance menuju reading for meaning, dan dari tes hafalan diubah menjadi analisis dan refleksi.
Literasi tidak akan tumbuh jika hanya menjadi urusan sekolah. Di banyak negara maju, perpustakaan publik menjadi pusat komunitas. Di Korea Selatan dan Jepang, perpustakaan hidup sebagai ruang interaksi sosial. Apakah di Indonesia belum memiliki praktik-praktik seperti itu? Jawabannya tidak, karena ada beberapa praktik baik yaitu Taman Bacaan Masyarakat (TBM), komunitas literasi lokal, perpustakaan desa. Namun, tantangannya adalah keberlanjutan dan dukungan kebijakan.
Media, terutama digital, selama ini seringkali dianggap sebagai musuh literasi. Padahal, jika dikelola dengan baik, justru bisa menjadi alat transformasi. Artinya harus diubah mindset yaitu media dari distraksi menjadi edukasi. Tantangannya adalah kualitas konten. Banyak informasi yang dangkal, bahkan menyesatkan. Negara seperti Estonia berhasil mengintegrasikan literasi digital dalam sistem pendidikan secara komprehensif.
Pendekatan EkosistemUntuk mengatasi masalah literasi, Indonesia tidak boleh hanya tergantung kepada program sektoral. Yang dibutuhkan adalah pendekatan ekosistem dengan beberapa agenda strategis. Pertama, integrasi kebijakan lintas sektor, yaitu bahwa literasi tidak hanya urusan pendidikan, tetapi juga sosial, budaya, dan ekonomi. Kedua, penguatan peran pemerintah daerah, dan literasi harus menjadi indikator kinerja daerah. Ketiga, penguatan literasi digital karena literasi abad 21 tidak bisa dilepaskan dari teknologi.
Yang juga penting bahwa krisis literasi bukan sekadar masalah pendidikan, tetapi masalah peradaban. Jika kita gagal membangun budaya literasi, maka kita akan kesulitan menghadapi tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi hingga polarisasi sosial. Catur pusat pendidikan menawarkan jalan keluar yang komprehensif dan bermakna jika dihidupkan sebagai gerakan bersama, bukan sekadar konsep.










