Sinyal Resesi Global Menguat, Lonjakan Harga Minyak Dekati Ambang Batas Krisis
Laju kenaikan harga minyak mentah dunia dalam 12 bulan terakhir (Rate of Change/ROC) menyentuh angka 91 atau mendekati ambang batas krusial 100 yang secara historis menjadi pendahulu setiap krisis pasar utama sejak 1987. Lonjakan tajam ini memicu kekhawatiran global karena indikator tersebut hanya terpaut sembilan poin dari level yang dianggap analis sebagai sinyal kuat terjadinya resesi dan kejatuhan bursa saham.
"Jika harga minyak naik 100 dalam satu tahun, antisipasilah resesi," ujar Pendiri DataTrek Research, Nick Colas dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga:Harga Minyak Dunia Melonjak 2,2, Brent Tembus USD111 per Barel
Nick merujuk pada data ekonomi industri otomotif tahun 1990-an yang menunjukkan kenaikan harga energi berlipat merupakan alarm bagi kontraksi ekonomi. Analisis dari Jack Prandelli mempertegas bahwa pola kenaikan di atas 100 selalu mendahului gelembung dotcom, krisis keuangan 2008, hingga pasar bear tahun 2022.
Saat ini, harga minyak Brent telah melampaui USD111 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati USD112 per barel. Bahkan, patokan fisik Dated Brent sempat melonjak hingga USD141 per barel, level tertinggi sejak 2008.Guncangan pasar energi global ini dipicu oleh eskalasi geopolitik berupa serangan militer AS-Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026 yang menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz. Jalur perdagangan vital yang lumpuh ini mendorong Brent mencatatkan kenaikan bulanan sebesar 64 pada Maret lalu, sebuah rekor tertinggi dalam catatan data LSEG sejak 1988.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada sentimen pasar di mana probabilitas resesi Amerika Serikat pada 2026 di platform prediksi Kalshi melonjak di atas 34. Kepala Ekonom Moody’s, Mark Zandi, memperingatkan bahwa jika harga minyak rata-rata bertahan di level USD125 per barel pada kuartal kedua, ekonomi dipastikan akan terdorong ke zona kontraksi.
Baca Juga:Rudal Iran Tembus Iron Dome dan Gempur Gedung 7 Lantai Israel, 3 Orang Hilang
Senada dengan hal tersebut, Oxford Economics menyebutkan, harga minyak di level USD140 yang bertahan selama dua bulan akan menjadi titik puncak bagi resesi global. Peramal independen Robert Fry menambahkan, meski dibutuhkan waktu beberapa bulan pada level harga tinggi untuk memicu krisis, potensi lonjakan lebih lanjut sangat terbuka lebar selama Selat Hormuz tetap tertutup.
Di sisi lain, tidak semua pihak memandang pesimistis secara instan. Morgan Stanley memperkirakan Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan mengabaikan lonjakan inflasi sektor energi dan tetap melakukan pemangkasan suku bunga pada paruh kedua 2026.
Langkah ini diprediksi tetap diambil asalkan ekspektasi inflasi jangka panjang masih dalam kendali otoritas moneter. Namun, dengan jalur diplomasi yang saat ini masih buntu dan indikator ROC yang terus mendekati angka tiga digit, pasar kini berada dalam posisi waspada.










