Rapat Anggota, PFI Perkuat Peran Filantropi sebagai Penggerak Solusi Nasional
Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menegaskan peran strategis filantropi sebagai penggerak solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional. Hal ini mengemuka dalam Rapat Umum Anggota (RUA) di Gedung IPMI, Jakarta.
RUA tahun ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan capaian tahun 2025 sekaligus memperkuat arah ke depan dalam membangun ekosistem filantropi yang lebih terintegrasi, kolaboratif, dan berdampak. Sepanjang 2025, PFI mencatat berbagai capaian signifikan dalam memperkuat perannya sebagai Filantropi Hub nasional.
Ketua Badan Pengurus PFI, Rizal Algamar mengatakan, tantangan ke depan menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi dan berbasis kolaborasi. “Sepanjang tahun 2025, PFI memperkuat perannya sebagai Filantropi Hub melalui penguatan pembelajaran, pengembangan pengetahuan berbasis data, perluasan kolaborasi lintas sektor, serta kampanye publik yang mendorong praktik filantropi yang lebih terintegrasi dan berdampak,” katanya dalam siaran pers, Rabu (29/4/2026). Baca juga:Kemenag Dorong Lembaga Filantropi Bersinergi Atasi Kemiskinan Ekstrem
Jumlah anggota PFI terus meningkat hingga mencapai 252 organisasi. Mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan dan komitmen lintas sektor dalam membangun kolaborasi filantropi di Indonesia.
PFI juga menyelenggarakan lebih dari 24 forum diskusi reguler dan 32 forum FIFest2025 yang melibatkan lebih dari 3.750 partisipan, serta menghasilkan berbagai 7 publikasi strategis untuk mendukung penguatan sektor filantropi. Dari sisi kampanye dan komunikasi, PFI mencatat 171 liputan media, menjangkau lebih dari 3,4 juta audiens, serta memproduksi 9 artikel philanthropy blog dan 20 op-eds serta konferensi pers. Perluasan jangkauan PFI juga ditandai dengan penguatan chapter daerah, termasuk di Makassar dan Surabaya. Hal ini sebagai upaya memperluas dampak filantropi yang lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan di tingkat regional.
PFI juga berhasil mendorong berbagai inisiatif strategis, termasuk penyelenggaraan Filantropi Indonesia Festival 2025 (FIFest2025), peluncuran Piagam Budaya Filantropi, sebagai kerangka nilai bersama untuk praktik filantropi yang etis, transparan, dan kontekstual. Selain itu, publikasi strategis dan policy brief yang dihasilkan menjadi rujukan berbasis riset dalam menyajikan analisis serta rekomendasi kebijakan bagi para pemangku kepentingan.
Dalam upaya menjawab tantangan pembangunan yang semakin kompleks, PFI memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui Multi-Stakeholder Forum (MSF) yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta. Inisiatif ini juga mendorong sinergi hingga tingkat pemerintahan desa sebagai garda terdepan implementasi program, sehingga solusi yang dihasilkan lebih kontekstual dan tepat sasaran. Inisiatif ini mendorong sinergi hingga tingkat pemerintahan desa sebagai garda terdepan implementasi program.
Sepanjang periode ini, MSF melibatkan tiga aliansi yakni Perhimpunan Filantropi Indonesia, Forum Zakat, dan Humanitarian Forum Indonesia Juga didukung enam mitra pengetahuan dan 25 kolaborator, sehingga memperkuat koordinasi, meningkatkan efektivitas intervensi, dan memastikan dampak yang lebih terukur. Baca juga:AHY Ungkap Benefit Kereta Cepat Surabaya Lebih Terasa: Akan Mengubah Peta Pembangunan
Johan Tandoko dari Yayasan Makna Karya Berdaya mengatakan, PFI tidak hanya menjadi sekadar jejaring, tapi telah berkembang menjadi sebuah ekosistem kolaboratif yang mempertemukan lembaga. ”Mendorong praktik filantropi di Indonesia yang tidak hanya strategis dan berdampak, tapi juga akuntabel dan transparan,” ujarnya.
Selain itu, peran PFI sebagai platform kolaborasi juga dirasakan secara luas. ”PFI berperan sebagai platform kolaborasi. Menyatukan berbagai organisasi untuk saling belajar dan memperkuat kapasitas, serta membuka akses ke jejaring strategis,” ungkap Anton Rizki dari Center for Indonesian Policy Studies.










