Israel Terus Gempur Gaza saat Gencatan Senjata, Warga Tak Rasakan Ketenangan Lagi
GAZA, iNews.id - Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 tak membawa rasa aman bagi warga Jalur Gaza. Militer Israel kembali melancarkan pengeboman intensif, Rabu (4/2/2026), menewaskan sedikitnya 23 orang hanya dalam satu hari.
Serangan ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sehari, sejak gencatan senjata diberlakukan.
Jurnalis Al Jazeera di Gaza, Abu Azzoum, mengatakan warga sama sekali tidak merasakan ketenangan, bahkan di masa yang seharusnya tak ada serangan militer.
“Terjadi peningkatan aktivitas militer Israel di seluruh Gaza dalam beberapa jam terakhir. Suara drone Israel terus terdengar di atas kepala, menandakan potensi serangan lanjutan yang bisa terjadi kapan saja,” ujarnya.
Sumber medis mengatakan kepada Al Jazeera, korban tewas termasuk anak-anak. Salah satunya bocah perempuan berusia 11 tahun. Serangan Israel menghantam sejumlah wilayah padat penduduk dan lokasi pengungsian.
Sebanyak 14 orang dilaporkan tewas akibat penembakan di lingkungan Tuffah dan Zeitun, Kota Gaza. Sementara itu, empat orang lainnya meninggal dunia setelah serangan menghantam tenda-tenda pengungsi di Qizan Abu Rashwan, Khan Younis.
Dua korban jiwa juga dilaporkan jatuh akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Al Mawasi. Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengonfirmasi salah satu korban adalah petugas pertolongan pertama, Hussein Hasan Hussein Al Sumairy.
Tak hanya menargetkan area terbuka, sejumlah rumah warga di Kota Gaza juga diserang tanpa peringatan sebelumnya. Rentetan serangan ini membuat warga hidup dalam ketakutan, meski status gencatan senjata masih berlaku.
Militer Israel mengklaim serangan tersebut dilakukan oleh unit lapis baja dan pesawat tempur di Gaza Utara, menyusul insiden seorang perwira cadangan Israel yang terkena tembakan dan mengalami luka parah.
Al Jazeera juga melaporkan, pasukan Israel memindahkan posisi garis kuning, penanda tak resmi area operasi militer mereka, di wilayah timur Gaza. Langkah ini memicu kecemasan baru di kalangan penduduk yang khawatir akan perluasan serangan.










