6 Fakta AS Kuasai Cadangan Minyak Venezuela 303 Miliar Barel Usai Trump Tangkap Maduro
JAKARTA - Amerika Serikat (AS) akan menguasai cadangan minyak Venezuela. Hal ini usai AS melancarkan serangan udara ke Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat.
Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan dengan sejumlah alasan, termasuk dugaan keterkaitan pemerintahan Maduro dengan peredaran narkotika internasional, namun sejumlah pihak menilai bahwa agresi ini merupakan bentuk intervensi yang bertujuan menguasai kekayaan sumber daya alam, khususnya minyak dengan cadangan terbesar di dunia 303 miliar barel.
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta AS kuasai cadangan minyak Venezuela 303 miliar barel usai Trump tangkap Maduro, Jakarta, Minggu (11/1/2026).
1. Donald Trump Akan Ambil Alih Minyak Venezuela
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mengambil alih pengelolaan cadangan minyak Venezuela setelah serangan militer AS berhasil menggulingkan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan minyak asal Amerika Serikat siap masuk ke Venezuela untuk memulihkan industri migas negara tersebut yang dinilai mengalami kerusakan parah akibat krisis berkepanjangan.
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” ujar Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago.
2. Respons Perusahaan Minyak AS
Pernyataan tersebut segera mendapat tanggapan dari Chevron, salah satu perusahaan energi terbesar asal AS yang selama ini memiliki kepentingan di Venezuela. Melalui juru bicaranya, Chevron menegaskan bahwa pihaknya masih bersikap hati-hati.
“Chevron tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami. Kami terus beroperasi sepenuhnya sesuai dengan semua hukum dan peraturan yang relevan,” ujar juru bicara perusahaan sebagaimana dikutip dari Sky News.
Sementara itu, raksasa minyak AS lainnya, ConocoPhillips, menyatakan tengah memantau secara cermat perkembangan situasi di Venezuela serta dampaknya terhadap stabilitas energi global.
“Kami memantau perkembangan di Venezuela dan implikasi potensialnya terhadap pasokan dan stabilitas energi global. Akan terlalu dini untuk berspekulasi tentang aktivitas bisnis atau investasi di masa depan,” kata juru bicara ConocoPhillips.
Di sisi lain, sejumlah pemain besar industri energi global seperti ExxonMobil, Shell, BP, TotalEnergies, dan Saudi Aramco hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait rencana Trump maupun potensi keterlibatan mereka di sektor minyak Venezuela.
3. Cadangan Minyak Venezuela
Venezuela menyimpan sekitar 17 dari total cadangan minyak dunia atau setara dengan 303 miliar barel, menjadikan sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Pada masa keemasannya di era 1970-an, Venezuela pernah memproduksi hingga 3,5 juta barel minyak per hari. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak negara tersebut merosot tajam.
Tahun lalu, produksi minyak Venezuela tercatat rata-rata hanya sekitar 1,1 juta barel per hari, atau setara dengan 1 dari total produksi minyak dunia.
AS sebelumnya menjadi pembeli utama minyak Venezuela. Namun, seiring memburuknya hubungan diplomatik kedua negara dan penerapan sanksi ekonomi, Tiongkok kini menjadi tujuan utama ekspor minyak Venezuela.
Sebagian besar cadangan minyak Venezuela merupakan minyak berat yang terkonsentrasi di wilayah Orinoco, Venezuela bagian tengah. Namun faktor korupsi dan minimnya pendanaan menjadi penyebab utama Venezuela belum mampu memaksimalkan potensi cadangan minyaknya.
Hal tersebut kontras dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi yang berhasil mengelola sumber daya minyak secara efisien.
4. Pergerakan Minyak Dunia
Sebagai gambaran, harga minyak dunia turun pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak mentah yang dikenai sanksi kepada AS.
Harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,8 persen menjadi USD60,23 per barel. Sementara West Texas Intermediate turun satu persen menjadi USD56,52 per barel.
5. Sikap Pemerintah Indonesia
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah masih memantau perkembangan dan dampaknya terhadap harga minyak dunia imbas ditangkapnya Maduro oleh AS. Dia menyebutkan, hingga saat ini belum ada gejolak signifikan yang memengaruhi stabilitas harga minyak global.
“Itu masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar 63 dolar per barrel,” kata Airlangga kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).
Airlangga menjelaskan pemerintah belum menyiapkan langkah antisipatif khusus selama situasi masih relatif stabil. Ia menyebut pemerintah memilih bersikap menunggu perkembangan lebih lanjut.
6. Harga Minyak Diprediksi Tak Naik
Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, menilai ketegangan yang tengah terjadi di Venezuela dengan Amerika Serikat belum memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mendorong kenaikan harga minyak dunia, baik dalam jangka pendek maupun menengah.
Fabby menjelaskan, faktor utama penentu harga minyak global adalah keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Dalam konteks Venezuela, gangguan pasokan yang mungkin terjadi dinilai terlalu kecil dibandingkan kondisi pasar minyak global saat ini.
"Produksi minyak Venezuela hanya sekitar 1 juta barel per hari, atau sekitar 1 persen dari produksi minyak dunia. Sementara itu, pasar minyak global masih mengalami surplus sekitar 3 juta barel per hari," ujarnya saat dihubungi.
Dengan kondisi tersebut, menurut Fabby, kalaupun nanti semisal konflik berujung pada pembatasan ekspor atau penurunan produksi minyak Venezuela, dampaknya terhadap harga minyak global akan sangat terbatas.
"Kalau pasokan turun 1 juta barel per hari tapi masih ada surplus 3 juta barel, secara teori harga tidak akan terdorong naik signifikan," jelasnya.
kenaikan harga minyak biasanya terjadi apabila gangguan pasokan berasal dari negara produsen besar dengan volume produksi yang dominan. Dalam kasus Venezuela, penurunan produksi tidak cukup besar untuk mengubah struktur pasar.
Fabby juga menilai sentimen risiko geopolitik memang bisa memicu volatilitas jangka pendek di pasar minyak. Namun, kenaikan harga akibat sentimen tersebut cenderung bersifat sementara dan akan kembali terkoreksi mengikuti fundamental pasar.
"Pasar minyak itu cepat merespons isu geopolitik, tapi selama fundamentalnya surplus, kenaikannya biasanya tidak bertahan lama," katanya.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, kondisi harga minyak yang relatif stabil atau cenderung rendah dinilai lebih menguntungkan. Namun demikian, Fabby mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap impor tetap menjadi risiko utama, sehingga strategi penguatan produksi dalam negeri dan pengendalian konsumsi BBM tetap harus menjadi prioritas pemerintah.










