Awas Ketergantungan Perawatan Kulit dan Pentingnya Edukasi bagi Masyarakat
JAKARTA – Di tengah maraknya tren perawatan kulit yang menjanjikan hasil instan, muncul fenomena lain yang kerap luput dari perhatian, yakni ketergantungan terhadap perawatan kulit intensif. Tidak sedikit orang merasa kondisi kulitnya akan langsung memburuk apabila berhenti menjalani rutinitas perawatan tertentu.
Pola ini menimbulkan kekhawatiran baru di masyarakat, khususnya di kalangan pengguna layanan kecantikan yang menjadikan perawatan kulit sebagai kebutuhan jangka panjang, bukan lagi sebagai upaya perawatan yang terukur.
Secara medis, kulit sejatinya memiliki kemampuan alami untuk memperbaiki dan menyeimbangkan diri. Namun, penggunaan produk maupun tindakan perawatan secara berlebihan justru dapat mengganggu mekanisme adaptasi alami tersebut.
Mahasiswa Cantik Wan Sabrina Mayzura dari Jurusan Teknik ITS Berhasil Wisuda di Usia Termuda
Fenomena ini tergambar dari kisah seorang perempuan yang mengaku kecanduan penggunaan skincare abal-abal. Pemilik akun media sosial bernama Mayaouldina membagikan pengalamannya saat pertama kali menggunakan krim yang banyak diiklankan. Karena tergiur klaim hasil cepat, ia mempercayai produk tersebut. Pada awal pemakaian, kulit wajahnya berubah drastis menjadi lebih putih dan glowing. Hasil instan itu membuatnya terus menggunakan produk tersebut hingga akhirnya mengalami ketergantungan.
Dalam sejumlah kasus, kulit yang terlalu sering terpapar perawatan agresif menjadi “terbiasa” dengan perlakuan tertentu. Akibatnya, muncul persepsi bahwa tanpa perawatan intensif, kondisi kulit akan langsung menurun. Persepsi ini kerap berkembang tanpa pemahaman menyeluruh mengenai kebutuhan kulit yang sebenarnya.
Para ahli kesehatan kulit menegaskan pentingnya pendekatan yang rasional dan berbasis edukasi. Tidak semua permasalahan kulit memerlukan tindakan agresif dan berulang. Saat kondisi kulit sudah stabil, perawatan dasar yang sederhana dan konsisten justru lebih efektif untuk menjaga keseimbangan alami kulit.
Edukasi pun menjadi kunci agar masyarakat memahami kapan harus melakukan perawatan khusus dan kapan cukup dengan perawatan dasar.
“Kami tidak ingin orang merasa kulitnya akan rusak jika berhenti melakukan perawatan. Tujuan kami adalah mengembalikan keseimbangan kulit, sehingga seseorang tahu kapan perlu perawatan intensif dan kapan cukup dengan perawatan sederhana,” papar Manajer Operasional Raraysae Beautycare, Rendy Dewantara.
Pendekatan tersebut diterapkan dengan menjadikan edukasi sebagai fondasi utama layanan. Raraysae mencatat, banyak klien datang dengan rasa cemas—takut jerawat kembali, flek memburuk, atau kondisi kulit menurun jika tidak terus menjalani perawatan.
Alih-alih memanfaatkan ketakutan tersebut, Raraysae berupaya membantu klien memahami kondisi kulit secara objektif. Penjelasan diberikan mengenai apa yang benar-benar dibutuhkan kulit dan apa yang tidak, serta menyusun langkah perawatan berdasarkan indikasi nyata, bukan sekadar kebiasaan.
Pendekatan ini menciptakan hubungan yang lebih sehat antara penyedia layanan dan pengguna. Klien kembali bukan karena rasa takut, melainkan karena kepercayaan dan pemahaman. Nilai yang dijunjung meliputi profesionalitas, transparansi, edukasi, serta tanggung jawab jangka panjang dengan menekankan proses yang jujur dan terukur dalam menjaga kesehatan kulit.









