Tak Disangka, Rumput Purun dari Rawa Kalimantan Disulap Jadi Produk Bernilai Tinggi

Tak Disangka, Rumput Purun dari Rawa Kalimantan Disulap Jadi Produk Bernilai Tinggi

Gaya Hidup | inews | Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:42
share

JAKARTA, iNews.id - Rumput purun yang tumbuh alami di kawasan rawa dan lahan basah Kalimantan Selatan selama ini lekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Tanaman tersebut biasa dimanfaatkan sebagai bahan anyaman, tetapi kini mulai diolah menjadi berbagai produk fungsional dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Pemanfaatan purun tersebut menjadi bagian dari upaya Gaia Weave, wirausaha sosial yang dikembangkan Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta. 

Melalui pendekatan tersebut, purun tidak hanya dipandang sebagai material tradisional, tetapi juga dikembangkan menjadi produk seperti tech organizer, document pouch, tas, aksesori hingga perlengkapan rumah tangga.

"Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh," ujar Alexandra dalam keterangannya.

Purun sendiri tumbuh secara alami di lingkungan basah, termasuk kawasan rawa dan gambut. Tanaman ini dapat dipanen dalam siklus sekitar tiga hingga enam bulan sehingga berpotensi menjadi sumber bahan baku yang dapat diperbarui.

Pemanfaatannya juga memiliki kaitan dengan keberlanjutan ekosistem. Lahan gambut menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar sekaligus berperan dalam menjaga tata air. Ketika gambut dikeringkan, dibakar atau dialihfungsikan, fungsi ekologisnya dapat terganggu dan risiko kebakaran serta pelepasan karbon meningkat.

Karena itu, pemanfaatan purun sebagai sumber ekonomi menjadi salah satu pendekatan yang berupaya mempertemukan kepentingan lingkungan dengan kebutuhan masyarakat.

Kriya dari rumput purun. (Foto: Istimewa)

Anyaman Purun Jadi Penghasilan Tambahan

Bagi masyarakat yang telah memiliki keterampilan menganyam, pengembangan produk berbahan purun membuka peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.

Salah satunya dialami Idang, perajin yang sebelumnya mengandalkan pekerjaan tani musiman. Dia biasa memperoleh sekitar Rp40.000 hingga Rp50.000 per hari dari pekerjaan tersebut.

Setelah bergabung sebagai perajin, Idang tetap bekerja di sawah dan menganyam purun setelah pulang ke rumah. Dari kegiatan tersebut, dia memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp80.000 hingga Rp100.000 per hari.

"Setelah pulang dari sawah, saya biasanya melanjutkan dengan menganyam di rumah. Sekarang keterampilan yang sudah kami miliki bisa menjadi tambahan penghasilan, dan hasil anyaman kami digunakan menjadi produk yang dipakai lebih banyak orang," ujar Idang.

Cerita tersebut menggambarkan bagaimana keterampilan tradisional yang sebelumnya dilakukan untuk menghasilkan produk sehari-hari dapat memiliki nilai ekonomi lebih besar ketika terhubung dengan desain dan akses pasar yang lebih luas.

Saat ini, Gaia Weave bermitra dengan 126 perajin yang tersebar di 15 desa di Kalimantan Selatan. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 6.000 unit per bulan.

Kemitraan tersebut disebut turut meningkatkan pendapatan para perajin sekitar 100 hingga 150 persen. Jika sebelumnya pendapatan berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan, kini sebagian perajin dapat memperoleh sekitar Rp2,7 juta hingga Rp3 juta per bulan.

Dari Keterampilan Tradisional ke Produk Modern

Gaia Weave mulai dikembangkan Alexandra pada 2025 setelah dia mengunjungi Kalimantan Selatan dan melihat adanya kesenjangan antara keterampilan perajin purun dengan akses terhadap pasar yang konsisten dan bernilai tambah.

Dari situ, dia membangun model yang menghubungkan proses dari hulu hingga hilir. Purun diproses dan dianyam oleh perajin lokal, kemudian dikembangkan menjadi produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Produk berbahan purun tersebut kini telah tersedia di lebih dari 100 gerai ritel dan mulai digunakan sejumlah pelanggan korporasi untuk kebutuhan merchandise, acara hingga hadiah karyawan.

Bagi Alexandra, peningkatan nilai suatu material tidak bisa dipisahkan dari orang-orang yang berada di balik proses produksinya.

"Ekonomi sirkular bukan hanya tentang material yang dapat digunakan kembali atau terurai. Yang tidak kalah penting adalah memastikan orang-orang dalam rantai pasok mendapatkan manfaat yang adil," katanya.

Pendekatan itu membuat keberlanjutan tidak hanya dilihat dari bahan yang digunakan, tetapi juga dari bagaimana manfaat ekonomi dibagikan kepada masyarakat yang mengolahnya.

Menjaga Nilai Purun dan Lahan Basah

Purun yang tumbuh di kawasan basah memiliki karakter yang membuat tanaman tersebut dekat dengan ekosistem rawa dan gambut. Dengan memberikan nilai ekonomi terhadap tanaman yang tumbuh di lanskap tersebut, masyarakat memiliki peluang untuk memperoleh manfaat dari sumber daya lokal tanpa harus mengubah fungsi lahannya.

Namun, pemanfaatan purun tetap perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Nilai ekonomi material lokal tidak otomatis menjamin kelestarian ekosistem, tetapi dapat menjadi salah satu bagian dari model yang menghubungkan kesejahteraan masyarakat dengan keberadaan lanskap lahan basah.

Ke depan, jenama itu menargetkan perluasan jaringan hingga lebih dari 1.000 perajin pada 2030. Inisiatif tersebut juga diarahkan pada pengembangan kemitraan dengan sektor perhotelan premium internasional serta perluasan pasar ekspor.

Selain memperluas pasar, mereka berencana mengembangkan sistem ketertelusuran berbasis QR. Sistem tersebut nantinya memungkinkan konsumen mengetahui perjalanan produk sekaligus informasi mengenai dampaknya terhadap perajin dan lanskap asal material.

"Kami ingin membuktikan bahwa produk sehari-hari dapat menjadi bagian dari solusi. Ketika material, desain, dan rantai pasok dirancang dengan tepat, sebuah produk dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendorong kita untuk lebih menghargai alam tempat material tersebut berasal," ujar Alexandra.

Topik Menarik