Penembakan di Sekolah Kanada Tewaskan 8 Orang, Pelaku Remaja 18 Tahun Transgender
ONTARIO, iNews.id - Kepolisian Kanada mengungkap identitas pelaku penembakan di SMP Tumbler Ridge, Provinsi British Columbia, yang menewaskan delapan orang. Polisi merevisi jumlah korban tewas dengan mengubah data menjadi delapan dari sebelumnya, sembilan.
Tujuh orang ditemukan tewas di sekolah tersebut, satu di antaranya pelaku. Jenazah dua orang lainnya ditemukan di rumah dekat sekolah. Satu korban perempuan yang sebelumnya dinyatakan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, ternyata masih hidup.
Pelaku penembakan yang berjenis kelamin perempuan setelah mengubahnya dari laki-laki (transgender) diketahui bunuh diri usai beraksi pada Selasa (10/2/2026) siang.
Wakil Kepala Kepolisian Kerajaan Kanada (RCMP) Dwayne McDonald menyebut pelaku penembakan adalah Jesse Van Rootselaar (18).
"Tersangka diidentifikasi sebagai Jesse Van Rootselaar berusia 18 tahun, penduduk Tumbler (Ridge)," kata McDonald, seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (12/2/2026).
Petugas menemukan dua pucuk senjata di tempat kejadian, yakni satu laras panjang dan sebuah pistol hasil modifikasi. Polisi masih mendalami asal usul senjata api tersebut. McDonald memastikan Van Rootselaar tidak memiliki izin senjata api.
Soal status pelaku sebagai transgender, dia memastikan spekulasi yang beredar itu adalah benar. Polisi bukannya tak mau mengungkap status pelaku, hanya saja tak ada yang menanyakan sampai seorang jurnalis mengonformasinya.
"Terima kasih atas pertanyaan Anda. Kami tidak menyembunyikannya. Kami mengidentifikasi pelaku, seperti yang dia pilih untuk diidentifikasi di depan umum dan di media sosial. Saya bisa sampaikan bahwa Jesse lahir sebagai laki-laki biologis yang, menurut informasi yang saya miliki, sekitar 6 tahun lalu, mulai bertransisi menjadi perempuan dan mengidentifikasi diri sebagai perempuan, baik secara sosial maupun publik," kata McDonald.
Meski demikian, kepolisian belum bisa mengungkap motif penembakan brutal tersebut.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang terpaksa membatalkan kunjungannya ke Eropa akibat kejadian ini, mengatakan penyelidikan atas insiden tersebut masih berlangsung. Dia meminta masyarakat memberi kepercayaan kepada penegak hukum menjalankan tugas.
Carney juga meminta agar bendera di seluruh gedung pemerintah, termasuk Menara Perdamaian Parlemen, dikibarkan setengah tiang selama 7 hari.










