Tak Gentar Didekati Kapal Induk AS, Iran Latihan Perang di Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada hari Senin memulai serangkaian latihan perang di Selat Hormuz. Manuver ini dimulai menjelang perundingan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan pada saat kapal induk Amerika, USS Abraham Lincoln, terlacak satelit berada di dekat wilayah negara Islam tersebut.
Menurut siaran televisi pemerintah Iran, latihan perang ini, yang durasinya tidak ditentukan, bertujuan untuk mempersiapkan IRGC menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di Selat Hormuz setelah Amerika mengerahkan kekuatan Angkatan Laut yang besar ke kawasan tersebut.
Baca Juga: Terlacak Satelit, Ini Penampakan Kapal Induk AS Pembawa Jet Tempur Siluman F-35 di Dekat Iran
Para politisi garis keras Iran telah berulang kali mengancam akan memblokir selat tersebut, terutama selama masa ketegangan yang meningkat dengan Amerika Serikat, tetapi selat itu tidak pernah ditutup.
Sekitar seperempat dari seluruh minyak yang diangkut melalui laut dan seperlima dari gas alam cair dunia melewati selat tersebut, menurut Badan Energi Internasional.Rangkaian latihan perang Iran, yang diawasi oleh Kepala IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan IRGC untuk bereaksi cepat, menurut lapor media Iran. IRGC adalah sayap ideologis militer Iran.IRGC memulai latihan dari Pulau Abu Musa—titik teritorial paling selatan Iran—dengan Pakpour mengatakan pasukan membangun "benteng yang kuat di sekitar pulau."
Laporan televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa unit-unit berbasis pulau di Teluk dapat beroperasi tanpa dukungan daratan. "Dengan rudal yang mampu menghancurkan kapal perusak musuh dalam radius 1.000 kilometer," bunyi siaran televisi tersebut, yang dikutip AFP, Selasa (17/2/2026).
Laporan itu juga menunjukkan video buram sebuah drone, tetapi menghindari memberikan detail operasional, yang tetap dirahasiakan.
Latihan tersebut berlangsung ketika Teheran dan Washington bersiap untuk putaran perundingan baru di Jenewa pada hari Selasa, yang dimediasi oleh Oman. Hal ini juga terjadi pada saat pengerahan militer AS yang besar di wilayah tersebut.
Dua negara yang telah lama bermusuhan tersebut melanjutkan negosiasi pada 6 Februari di Oman, yang pertama sejak diplomasi runtuh Juni lalu ketika Israel memicu perang 12 hari dengan serangan mendadak terhadap Iran, yang sempat diikuti Amerika Serikat dengan menyerang fasilitas nuklir Iran.Presiden AS Donald Trump telah menekan Iran untuk mencapai kesepakatan, terutama dengan pengerahan pasukan Angkatan Laut AS baru-baru ini ke wilayah tersebut yang dia gambarkan sebagai "armada besar".
Setelah mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal-kapal perang pengawal ke Teluk pada bulan Januari, Trump mengatakan pada hari Jumat pekan lalu bahwa kapal induk super kedua, USS Gerald R. Ford, akan berangkat segera ke Timur Tengah.
Pada hari Senin, pejabat Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh memperingatkan, "Semua kapal asing di wilayah tersebut berada di bawah pengawasan intelijen penuh dan dalam jangkauan kekuatan pertahanan kami."
"Angkatan bersenjata sepenuhnya siap, memantau pergerakan musuh dan tidak pernah mengabaikan ancaman," paparnya, yang dilansir IRNA.










