Said Didu Minta Maaf Sebut EO Sarang Korupsi, Jelaskan Maksud Sebenarnya
JAKARTA, iNews.id - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu memberikan penjelasan terkait pernyataannya bahwa Event Organizer (EO) merupakan 'sarang' praktik korupsi. Said menegaskan, yang dia maksud sebagai sarang korupsi bukanlah para pengusaha EO melainkan para pejabat yang menjadikan EO untuk memuluskan praktik korupnya.
"Bukan EO-nya sarang korupsi. Yang sarang korupsi itu adalah pejabat merancang anggaran memang untuk dikorupsi, dan menggunakan EO sebagai kuda tunggangan," kata Said dalam tayangan 'Debat Terbuka Said Didu vs Backstagers Indonesia: Korupsi EO Triliunan Rupiah?' di kanal Official iNews, Rabu (8/4/2026).
Said mengaku menghargai para EO profesional seperti yang tergabung dalam Backstagers Indonesia. Said lebih mempersoalkan para EO abal-abal yang dia istilahkan sebagai 'pencari kuitansi'.
"Ada EO abal-abal, tugasnya hanya EO pencari kuitansi, tapi dikatakan EO, padahal ditugaskan oleh pejabat kau cari kuitansi. Dibayar satu, kuitansinya tiga, supaya uang keluar, itu yang saya anggap sarang korupsi," kata Said.
Dia pun kembali mengklarifikasi diksi 'EO sarang korupsi' dari dirinya yang memicu kontroversi. Said meminta maaf diksi tersebut menimbulkan kesalahpahaman khususnya dari pihak EO profesional.
"Itu diksi, dan saya minta maaf atas kesalahan diksi tersebut. Yang saya maksud adalah jangan lagi pejabat menggunakan EO ditunggangi untuk korupsi," kata Said.
Sebelumnya, Forum Backstagers Indonesia merespons pernyataan Said Didu yang menyebut Event Organizer (EO) merupakan tempat paling aman untuk melakukan praktik korupsi.
Ketua Forum Backstagers Indonesia, Andro Rohmana menyebut, pernyataan yang disampaikan Said Didu bukan pertama kalinya pejabat atau tokoh publik gagal menilai ekonomi kreatif. Termasuk kekeliuran pernyataan yang menyebut EO adalah tempat korupsi paling aman.
"Ketika tokoh publik dan seluruh penyelenggara acara berbicara mengenai EO adalah tempat korupsi paling aman, itu sama saja sesat pikiran," kata Andro dikutip dari tayangan video di Instagram, Jumat (3/4/2026).
"Ini bukan saja kita berbicara kekeliruan, tetapi ini tanda bahwa sistem kita masih buta pada sebuah nilai ekonomi kreatif," katanya.










