PM Belanda Rob Jetten Minta Maaf kepada Tentara Maluku
AMSTERDAM, iNews.id - Perdana Menteri Belanda Rob Jetten, Minggu (21/6/2026), menyampaikan permintaan maaf kepada tentara asal Maluku yang berperang untuk Kerajaan Belanda. Dia meminta maaf atas perlakuan buruk terhadap tentara tersebut serta generasi pertama warga Maluku yang dibawa ke Belanda 75 tahun silam.
Berbicara di Monumen Komunitas Maluku Nasional di Lloydkade, Rotterdam, Jetten menyampaikan permintaan maaf atas berbagai perlakuan buruk yang dialami para tentara Maluku.
"(Kami meminta maaf) Atas pemecatan Anda yang tidak berperasaan dan tidak terhormat sebagai tentara, atas penyambutan dan perumahan tidak memadai yang Anda terima, atas pengabaian dan penelantaran, atas kerinduan yang tak kunjung sembuh akan tanah air, dan atas kesedihan dan penderitaan yang dialami oleh begitu banyak keluarga Maluku, hari ini, atas nama pemerintah Belanda, saya meminta maaf. Saya meminta maaf kepada masyarakat Maluku," kata Jetten, seperti dikutip dari Anadolu, Senin (22/6/2026).
Pernyataan itu langsung disambut para hadirin dengan tepuk tangan meriah dan teriakan.
Israel Dikecam Dunia usai Video Penghinaan Aktivis Kemanusiaan Global Sumud Flotrilla Viral!
Jetten melanjutkan, permintaan maaf hanya bermakna jika diikuti tindakan nyata. Meski demikian dia belum bisa menyampaikan bagaimana ungkapan penyesalan pemerintah tersebut akan diimplementasikan.
Dia juga menegaskan, masyarakat Maluku di Belanda harus memiliki suara yang signifikan dalam menentukan langkah selanjutnya seraya mencatat pentingnya menyampaikan permintaan maaf selagi perwakilan generasi pertama Maluku masih hidup.
Jetten mengakui perlakuan terhadap warga Maluku sebagai ketidakadilan sejarah. Selain itu enderitaan yang mereka alami belum cukup diakui.
"Rasa sakit ini juga ditanggung oleh generasi-generasi berikutnya," ujarnya.
Jetten menggambarkan Monumen Komunitas Maluku Nasional yang baru diresmikan lebih penting dari segalanya. Monumen itu merupakan bentuk penghormatan terhadap ribuan tentara dan keluarga mereka yang yakni kedatangan ke Belanda hanya sementara dan berharap segera pulang ke kampung halaman.
Setelah berakhirnya penjajahan Belanda di Indonesia pada 1950, sekitar 12.500 tentara Maluku yang bertugas di Angkatan Darat Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), bersama keluarga mereka, dibawa ke Belanda dengan alasan hanya untuk sementara.
Mereka kemudian ditempatkan di bekas kamp konsentrasi Nazi.










