Perjanjian Damai dengan Iran Terancam Batal gegara Israel, Begini Tanggapan AS
JENEWA, iNews.id - Serangan Israel yang terus berlanjut ke Lebanon dinilai berpotensi mengganggu implementasi perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang baru diteken pekan lalu. Menanggapi situasi tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan pemerintahannya tetap melihat kemajuan besar dalam upaya mempertahankan gencatan senjata di Lebanon.
Vance merespons kekhawatiran terkait pelanggaran gencatan senjata oleh Israel yang masih melancarkan serangan ke Lebanon. Menurut dia, meski serangan masih terjadi, kondisi saat ini tetap lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya ketika konflik berlangsung jauh lebih intens.
"Hal-hal ini sedikit rumit jika Anda kembali ke seberapa banyak yang terjadi 3 bulan lalu, dan membandingkannya dengan 3 minggu lalu," kata Vance, dikutip dari Anadolu, Senin (22/6/2026).
Dia menambahkan bahwa pemerintah AS melihat kemajuan signifikan selama beberapa hari terakhir dalam memastikan gencatan senjata tetap berlaku di Lebanon, meskipun insiden kekerasan belum sepenuhnya berhenti.
Rosan soal WNA Australia Luke Thomas Mahony Jadi Bos PT DSI: Banyak Pengalaman-Bisa Bahasa
Pernyataan itu disampaikan di tengah laporan serangan Israel yang menewaskan sedikitnya 32 orang dalam sehari di Lebanon. Aksi militer tersebut memicu kekhawatiran bahwa ketegangan regional dapat menghambat implementasi nota kesepahaman (MoU) perjanjian damai yang ditandatangani AS dan Iran pada 17 Juni lalu.
Di sisi lain, Vance mengungkapkan bahwa perundingan lanjutan antara AS dan Iran yang berlangsung di Burgenstock, Swiss, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
"Kita telah mencapai kemajuan besar hanya dalam beberapa jam terakhir, dan saya berharap akan ada kemajuan tambahan," ujarnya.
Vance memimpin delegasi AS dalam perundingan yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Dia didampingi utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, serta penasihat Gedung Putih Jared Kushner.
Sementara itu, delegasi Iran dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi yang didampingi Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Pertemuan tersebut bertujuan membahas implementasi MoU perdamaian yang ditandatangani kedua negara pekan lalu.
Menurut Vance, tujuan pembicaraan tidak hanya menyelesaikan ketegangan antara Washington dan Teheran, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi Timur Tengah menuju kawasan yang lebih damai dan sejahtera.
“Sekarang kita melihat masa depan di mana semua orang bisa bekerja sama untuk mempromosikan perdamaian dan kemakmuran bagi semua orang," katanya.
Vance juga menegaskan AS siap mengubah hubungannya secara fundamental dengan Iran apabila Teheran bersedia meninggalkan ambisi untuk memiliki senjata nuklir dalam jangka panjang.
“Itu tentu saja tujuan kami," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa Presiden Donald Trump berkomitmen untuk mewujudkan gencatan senjata penuh di Timur Tengah. Menurut Vance, AS, Qatar, Pakistan, Israel, dan pihak-pihak terkait lainnya saat ini terus bekerja sama untuk mencapai perdamaian regional yang lebih luas.
Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif berharap perundingan di Swiss menghasilkan terobosan penting.
“Saya kira di sini kita akan melakukan diskusi yang luar biasa, yang mudah-mudahan akan membuahkan hasil yang sangat produktif di masa mendatang,” katanya.









