Anak Tiba-Tiba Ngaku Punya Pacar, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?
JAKARTA — Anak tiba-tiba mengaku memiliki pacar bisa membuat orangtua panik. Kekhawatiran mengenai pergaulan hingga kemungkinan anak melakukan hal-hal yang belum sesuai usianya sering kali membuat orangtua langsung melarang atau menghakimi. Padahal, respons tersebut justru dapat membuat anak enggan terbuka mengenai hubungan maupun perasaannya.
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Sani Budiantini Hermawan, S.Psi. mengatakan, orangtua perlu menerima ketika anak mulai mengungkapkan perasaan tertarik kepada lawan jenis. Menurutnya, rasa tertarik merupakan hal yang natural dalam proses perkembangan anak.
"Hubungan terhadap pasangan, memang anak di sini harus diberikan juga masukan atas batasan-batasan. Anak harus diterima ketika mereka mengutarakan perasaan tertarik pada lawan jenisnya. Karena perasaan itu kan sesuatu yang natural," ujar Sani.
Jangan Langsung Menghakimi
Ketika anak mengatakan memiliki pacar, orangtua sebaiknya tidak langsung mengabaikan atau menolak perasaan tersebut. Sani mengingatkan agar orangtua tidak memberikan respons yang membuat anak merasa bersalah hanya karena memiliki rasa suka kepada seseorang.
"Jadi nggak boleh mengabaikan perasaan, tidak boleh merejek, atau bahkan itu dianggap haram misalnya. Tapi biarkan anak merasakan perasaan itu," jelasnya.
Alih-alih memarahi atau melarang, orangtua dapat memanfaatkan momen tersebut untuk membuka percakapan. Misalnya, dengan bertanya apa yang membuat anak menyukai orang tersebut atau hal-hal apa yang biasanya mereka bicarakan.
"Karena kita boleh nanya, apa yang kamu suka dari pasangan tersebut, kemudian apa yang diomongin," lanjut Sani.
Menurutnya, pertanyaan tersebut dapat membantu orangtua memahami seperti apa hubungan yang sedang dijalani anak. Pada dasarnya, pacaran bagi anak merupakan bentuk hubungan yang dianggap lebih spesial dibandingkan hubungan dengan orang lain.
Ajarkan Nilai dalam Hubungan
Setelah mengetahui bahwa anak memiliki hubungan spesial dengan seseorang, orangtua dapat mulai memberikan pemahaman mengenai hubungan yang sehat. Anak perlu mengetahui bahwa hubungan dengan pasangan bukan berarti bebas mengontrol atau mengatur kehidupan satu sama lain.
Sani menyebutkan beberapa nilai yang perlu diperkenalkan kepada anak, seperti saling menghormati, tidak saling mengontrol, serta tetap memberikan dukungan terhadap pendidikan dan kegiatan masing-masing.
"Jadi kita juga ajarkan nilai-nilai value, saling respect, saling tidak mengontrol, saling tetap mendukung akademis, mendukung kegiatan dengan keluarga misalnya," tuturnya.
Menurut Sani, hubungan yang sehat juga dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengenal dirinya sendiri sekaligus mendapatkan dukungan emosional dari orang yang dianggap dekat.
"Jadi hubungan pacaran itu adalah bermanfaat apabila kita jadi mengenal diri kita, justru mendapat dukungan secara emosional dari orang yang kita anggap orang terdekat kita," katanya.
Karena itu, komunikasi antara orangtua dan anak menjadi hal penting. Orangtua tetap perlu menetapkan batasan, tetapi penyampaiannya sebaiknya dilakukan melalui percakapan yang terbuka dan sesuai dengan usia anak.
"Nah itu yang orangtua perlu komunikasikan, jadi jangan sampai anak dihakimi atau kita panik, dibilang enggak, sebagainya," ujar Sani.
Berikan Edukasi Seksual Sesuai Usia
Selain membicarakan hubungan yang sehat, orangtua juga perlu memberikan edukasi seksual sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak. Edukasi tersebut tidak harus disampaikan secara berlebihan, tetapi diberikan secara bertahap sesuai usia dan tingkat pemahaman anak.
Sani mengatakan, ketika anak mulai memasuki fase preteen dan pubertas, orangtua dapat mulai menjelaskan perubahan biologis yang terjadi pada tubuh, termasuk mengenai sel telur dan sel sperma.
"Termasuk misalnya apa yang harus dihindari, misalnya hubungan seks sebelum nikah. Apakah hubungan seks itu kan ketika anak sudah preteen, memasuki pubertas kan sudah pasti harus dikasih tahu, bagaimana bertumbuhnya sel telur dan sel sperma, kemudian bisa menjadi bakal anak karena ada hubungan intim dan sebagainya," jelasnya.
Dengan pemahaman tersebut, anak diharapkan mengetahui batasan dalam hubungan serta konsekuensi dari perilaku seksual. Edukasi juga dapat menjadi bekal agar anak mampu mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab.
Heboh Mal Pasang Pagar Tinggi, Pengamat Ingatkan Pemerintah Antisipasi Potensi Gangguan Kamtibmas
Sani menekankan bahwa pembicaraan mengenai pacaran, batasan dalam hubungan, hingga edukasi seksual tidak perlu dilakukan dengan suasana yang membuat anak takut.
"Jadi orangtua sebenarnya mengajarkannya dengan santai saja, relax, tidak perlu khawatir, tidak perlu berlebihan, tapi tentunya sesuai dengan usia perkembangan anak," pungkasnya.










