Kematian dr Myta Aprilia Ungkap Realita Menyedihkan Dokter Internship di RS, Ini Faktanya!
JAKARTA, iNews.id - Meninggalnya dr Myta Aprilia Azmi, dokter internship di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, membuka kembali sorotan publik terhadap beratnya beban kerja dokter internship di Indonesia. Seperti qpa realita dokter internship di rumah sakit?
Kasus kematian dr Myta Aprilia mendapat sorotan publik, karena almarhumah wafat diduga setelah tetap menjalankan tugas meski dalam kondisi sakit. Bahkan, almarhumah disebut sudah mengeluh sakit sejak Maret 2026 dan sempat tetap menjalani jaga malam saat mengalami sesak napas berat serta demam tinggi.
Influencer kesehatan dr Didi Sudiyatmo turut menyoroti realita yang dialami para dokter internship di lapangan. Menurutnya, meski status mereka masih dokter internship, kenyataannya mereka sering menjadi garda terdepan dalam pelayanan pasien.
"Mereka disebut ‘dokter internship’ namun di lapangan, mereka sering menjadi garda terdepan," tulis dr Didi dalam unggahan Threads miliknya, dikutip Senin (4/5/2026).
Padahal, secara posisi, dokter internship sejatinya masih berada dalam tahap belajar dan adaptasi setelah lulus pendidikan profesi dokter. Mereka seharusnya mendapat pendampingan maksimal sebelum benar-benar memikul tanggung jawab besar di rumah sakit.
Namun realitanya, para dokter internship justru kerap dipercaya menjaga IGD, menangani pasien rawat inap, hingga menjawab panggilan medis di tengah malam. Tugas tersebut dijalani dengan tekanan tinggi, sering kali tanpa waktu istirahat yang cukup.
“Mereka masih belajar, tapi sudah memikul tanggung jawab besar. Jaga IGD, rawat pasien, menjawab panggilan di tengah malam. Semua dijalani, sering tanpa cukup istirahat, tanpa rasa aman yang memadai,” ujar dr. Didi.
Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan karena ketika dokter internship jatuh sakit, tidak sedikit dari mereka tetap dipaksa atau merasa harus tetap bekerja demi memenuhi kewajiban pelayanan rumah sakit.
Padahal, menurut dr Didi, di balik status internship, mereka tetap manusia biasa yang membutuhkan perlindungan, kesejahteraan, dan rasa aman dalam bekerja.
"Kita lupa, di balik status ‘internship’ ada manusia yang juga butuh dilindungi. Kesejahteraan dan keamanan mereka bukan sekadar formalitas," tegasnya.
Ia pun mempertanyakan mengapa kasus serupa masih terus terjadi dan kembali memakan korban di kalangan dokter muda. "Mengapa masih ada korban lagi?" pungkas dr Didi.
Kasus meninggalnya dr Myta kini menjadi pengingat keras bahwa sistem kerja dokter internship perlu dievaluasi serius. Banyak pihak menilai, dokter yang masih berada dalam masa pembelajaran tidak seharusnya dibebani tanggung jawab berat tanpa dukungan dan perlindungan yang memadai.










